Kemiskinan, Nrimo ing Pandum, dan Yogyakarta

Provinsi DI Yogyakarta menjadi provinsi termiskin di pulau jawa. Itu menurut data dari BPS yang menghitung mengenai konsumsi kalori di provinsi yang istimewa itu. Pernyataan ini lalu membuatku bertanya pada diri sendiri mengenai bagaimana selama ini sebenarnya permasalahan ekonomi di DI Yogyakarta memang menjadi salah satu problematika tersendiri selama beberapa tahun ini. UMR yang sering mendapat sorotan karena di tengah gelombang wisatawan yang tinggi, Yogyakarta tetap menjaga marwah “sederhana” dengan menaikkan sedikit demi sedikit UMR-nya. Tentu kita bisa saja memberikan hipotesa-hipotesa mengenai mengapa UMR di Yogyakarta itu sangat “layak”. Tapi berawal dari berita ini, pikiran saya justru menuju pada hal lain yaitu mengenai bagaimana diskursus kemiskinan ini selalu saja ditabrakkan dengan konsep “Nrimo Ing Pandum“. Iya. Wacana mengenai “Nrimo ing pandum” sendiri berhembus kencang di sosial media Twitter tatkala persoalan ekonomi ini mencuat naik di sosial media. Tidak, saya tidak terburu-buru untuk menyalahkan mengenai narasi “Nrimo ing pandum” ini sendiri. Saya justru penasaran apakah narasi “Nrimo ing pandum” (NIP) ini menjadi ideologi yang kuat hingga Yogyakarta ya tidak apa-apa untuk dilihat sebagai masyarakat yang mlarat, miskin, dan tidak berdaya?

Apa yang menjadi pertanyaan saya mungkin akan ditentang oleh banyak orang. Tapi daripada anda terburu-buru menyalahkan saya (dan tentu berdasar dengan apa yang saya tulis), apa salahnya untuk menyelidiki lebih jauh mengenai bagaimana narasi NIP ini menjadi alat selubung yang cukup kuat untuk menutupi masalah ekonomi yang sebenarnya tidak terselesaikan di Yogyakarta? Saya yakin, masalah ekonomi ini akan berdampak cukup besar dalam berkembangnya kriminalitas dan masalah-masalah sosial lainnya yang akan muncul di Yogyakarta.

Sebagai awal, saya ingin mendalami mengenai apa sih yang dimaksud dengan “Nrimo ing pandum“? Sejauh yang saya pahami, “Nrimo ing pandum” berarti menerima (Nrimo) apa yang sudah diberikan (pandum). Nah disini sebenarnya bisa dibedah secara struktur kalimatnya sendiri. Orang yang mengatakan ini tentu menjadi subjek yang akan menerima sesuatu hal. Masalahnya adalah dari siapa dia akan menerima ini? Subjek yang memberikan inilah yang mungkin menjadi jebakan batman. Ini karena tidak pernah dipahami secara utuh mengenai siapa yang memberikan. Jika ini dilihat sebagai kalimat yang memberikan makna spiritualitas, tentu saja yang memberikan adalah Gusti atau Tuhan. Jadi jika kalimat Nrimo ing pandum ini diletakkan dalam dimensi spiritualitas, ya saya pikir menjadi kalimat yang sesuai dengan maknanya. Tuhan sebagai Yang Mahakuasa, saya pikir akan memberikan hal yang menjadi kebutuhan manusia. Mengenai definisi kebutuhan itu sendiri, mungkin masih bisa diperdebatkan lebih jauh, tetapi jika melihat proses hidup manusia, mungkin kita juga perlu menyelipkan mengenai bagaimana manusia itu sendiri harus berusaha juga untuk mendapatkan rejeki dari Tuhan. Pepatah Ora obah ora mamah (Obah=bergerak, mamah=makan) akan menjadi pernyataan yang sesuai untuk mendahului kalimat Nrimo ing pandum. Sebab manusia perlu berusaha juga untuk mendapatkan rejekinya sebelum ia mendapatkan pandum yang sesuai dengan kebutuhannya.

Namun persoalan akan timbul jika kalimat Nrimo ing pandum ini bergeser dimensinya. Apalagi digeser dan masuk ke ranah dimensi politik dan ekonomi. Kerap kali Nrimo ing pandum menjadi mantra yang cukup kuat untuk memaksakan yang memberi terhadap pihak-pihak yang terberi, walau pandum yang diberikan tidak sesuai dengan porsinya. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, dimensi spiritualitas ini memang menjadi langkah yang cukup ‘seksi’ untuk membutakan pihak yang terberi. Orang-orang terpaksa dan dipaksa untuk menerima keadaan tanpa mereka diberikan ruang yang cukup leluasa untuk obah. Dalam pemahaman saya, orang akan mampu memahami Nrimo ing pandum apabila ia sudah diberikan ruang yang cukup untuk bergerak dengan cukup leluasa. Memang, narasi NIP ini dalam falsafah jawa menjadi ‘rem’ sosial supaya tidak terjadi kekacauan karena orang akan berlomba-lomba mencari ruang gerak yang leluasa. Ruang-ruang kontestasi inilah yang harus dipertanyakan lebih jauh sebelum menyatakan bahwa hidup manusia harus juga bisa Nrimo ing pandum. Dasar logika saya sederhana. Tuhan yang Mahakasih tidak mungkin hanya memberi sekadar penderitaan. Tentunya ia juga akan memberikan kebahagiaan. Ya walaupun kebahagiaan dan kesedihan itu juga bisa menjadi satu koin dengan dua sisi. Cuma persoalannya adalah bagaimana melihatnya. Tetapi cara melihat pandum ini kupikir ya harusnya biar menjadi proses dialektika dalam individu-individunya. Tidak usah dipaksakan bahwa gaji yang kecil adalah pandum yang harus diterima. Jika memang memaksakan sudut pandang seperti ini, nampaknya ada banyak lompatan-lompatan logika yang sengaja dilompati untuk mendapatkan keuntungan tersendiri. Saya kok yakin ya bahwa rasa syukur untuk menerima pandum tetap berasal dari manusianya sendiri. Tidak bisa kita memaksa orang untuk bersyukur, karena terkadang, kita terburu-buru dengan melompati narasi apa yang membuat seseorang tidak cukup bersyukur. Kembali lagi mengenai ruang gerak yang diberikan, apakah ruang gerak (bisa juga diartikan sebagai kebebasan finansial, kebebasan pribadi dan ruang-ruang gerak di struktur sosial masyarakat) ini sudah diberikan terlebih dahulu sebelum memaksakan orang untuk menjadi manusia yang nrimo ing pandum?

Jika kita hubungkan narasi Nrimo ing pandum dengan bagaimana kondisi ekonomi di Yogyakarta, maka ada fakta-fakta yang mungkin mengarah pada pernyataan bahwa orang-orang di Yogyakarta memang dipaksa dan terpaksa menerima keadaan yang semestinya mampu diubah. Tentu ini meletakkan narasi Nrimo ing pandum pada irisan spiritualitas dan sosial ekonomi. Kebijakan-kebijakan dari pemerintah sendiri harus membuka ruang gerak yang leluasa (baik secara sosial maupun ekonomi) sebelum mendiktekan mengenai falsafah Nrimo ing pandum. Jika memang kita menganggap bahwa pemegang kebijakan ini adalah representasi dari Gusti itu sendiri, seharusnya memang mampu dibukakan ruang-ruang untuk kemungkinan mobilitas sosial dan ekonomi. Ya apa ga malu mau mensejajarkan dengan Tuhan jika yang direpresentasikan adalah yang Mahakuasa dan Mahakasih, apalagi yang diberikan hanya “kesederhanaan”? Kok rasa-rasanya kurang pas untuk masih mau dilihat sebagai representasi Yang Mahakuasa. Apalagi berani untuk memaksa orang menjadi orang yang Nrimo ing pandum?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s