Seharusnya Memilih Teman Itu Tidak Apa-Apa

Menjadi dewasa juga memiliki konsekuensi yang tak terduga dan mungkin tidak aku kira sebelumnya. Salah satunya adalah lingkaran pertemanan yang semakin kecil seiring berjalannya waktu. Kita secara tidak sadar pada akhirnya akan dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin se-frekuensi dengan kita. Apalagi ketika kita semakin berumur, kita semakin enggan untuk menginvasi (lebay amat) orang-orang baru untuk dimasukkan ke dalam hidup kita (cuma asumsiku sih, soalnya aku mengalami hal ini). Jadi semakin kita dewasa, semakin menyempit circle pertemanan kita.

Situasi semacam ini mengingatkan saya pada perkataan orangtua ketika masih kecil. Mereka selalu mengingatkan untuk tidak memilih teman. Ya pada akhirnya ada situasi dimana tidak semua orang ‘layak’ kita masukkan dalam kategori teman. Suka atau tidak, kita pada akhirnya akan menyaring lingkaran pertemanan kita. Kita memilih untuk mundur pada lingkaran pertemanan tertentu entah apapun alasannya. Mungkin juga karena alasan yang sangat praktis seperti bahan pembicaraan yang sudah tidak dapat dinikmati. Ini masalahnya. Aku pernah mengalami rasa tidak enak karena keluar dari lingkaran pertemanan tertentu. Dicap sombong, dicap tidak bisa fleksibel dan kaku. Pada awalnya sih begitu hingga pada akhirnya aku menemukan satu titik dimana sebenarnya aku berhak menentukan siapapun untuk menjadi teman, sahabat, ataupun hanya sekadar kenalan saja.

Mengapa pada akhirnya aku membuat level pada lingkaran pertemanan? Ya tentu saja karena pada akhirnya aku menemukan keadaan dimana tidak semua orang memang mau berteman denganku dan tidak semua orang pula ‘layak’ untuk diberi waktu, perhatian dan tenaga. Mau tidak mau, suka tidak suka, ada beberapa orang yang mungkin pada akhirnya kita anggap ‘kenalan’ saja karena memang ada kejadian tertentu yang menyebabkan ‘turunnya derajat lingkaran pertemanan’. Aneh ya istilahku, tapi ya begitulah adanya. Boleh kok kita menurunkan ‘level’ pertemanan. Sah-sah saja menurutku sebab hubungan interpersonal itu bertumbuh dan dinamis. Jika itu tidak dipupuk dengan baik, ya wajar jika pada akhirnya hanya berakhir pada level ‘kenal’ saja.

Fakta lain yang lebih menyakitkan untuk diterima adalah menyempitnya lingkar pertemanan seiring bertambahnya usia. Iya. Semakin kita dewasa, lingkar pertemanan kita mengecil. Kita mungkin pada akhirnya hanya memiliki beberapa gelintir orang untuk dicurhati namun mereka-mereka inilah yang pada akhirnya mampu menjaga kewarasan mental kita setelah kehidupan memberikan kita cobaan yang cukup membajingkan. Awalnya mungkin aku juga sakit hati ketika secara natural ‘dikeluarkan’ di lingkaran pertemanan tertentu. Tapi pada akhirnya, aku harus menerima sebab kehidupan yang begitu dinamis memang membawa perubahan tertentu pada diri masing-masing orang, dan itu wajar. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita ‘nyemplung’ di dalam perubahan tersebut.

Perubahan-perubahan inilah yang kerap tidak disadari oleh beberapa lingkar pertemanan. Terus menerus membahas mengenai ‘kejayaan’ masa lalu tongkrongan pada akhirnya hanya berbuah kebosanan bagiku sebab hidup dialami oleh orang-orang secara berbeda. Ada orang yang berjuang untuk sesuap nasi, ada juga orang yang berjuang untuk sesendok berlian. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika kita semua memaksakan bagaimana kondisi kita dialami oleh orang lain juga. Maka jika masih ada tongkrongan-tongkrongan yang tiap hari berkumpul dan hanya membahas mengenai ‘kejayaan’ masa lalu terus menerus, tinggalin aja. Karena aku yakin dirimu tidak akan tumbuh. Ya kamu cuma hanya berkutat pada kisah-kisah nostalgik yang dibuat untuk membuai dirimu. Healing pun tidak. Yang ada hanya lari dari kenyataan dan balik ke simple past tense. Membayangkan sesuatu yang sudah terjadi dan rasa-rasanya emosi yang membuncah hanya keluar sesaat. Setelahnya bosan dan kekosongan akan lebih mendominasi (menurut pengalamanku lho ini. Kalo kamu mengalami hal yang lain, ya silakan).

Maka pada akhirnya mungkin memilih teman memang tidak apa-apa. Toh, secara natural, kita semua akan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama. Teman-teman yang menghilang begitu saja adalah hal yang harusnya lumrah sebab tidak semua orang harus berada dalam satu tongkrongan terus menerus sepanjang hayatnya. Kita semua berhak untuk mendapatkan lingkaran pertemanan yang baru dan berhak juga untuk mempertahankan lingkaran pertemanan yang nyaman. Ya kan? Jadi ngapain kita bersusah payah untuk memakai topeng untuk masuk ke dalam satu lingkaran pertemanan yang tidak kita inginkan (bahkan kadang tidak kita butuhkan)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s