Semua yang Selalu Muncul di Kepalaku

Jadi tulisan kali ini mungkin lebih bernada curhat ketimbang opini atau argumen seperti tulisan-tulisanku yang lain dalam blog ini. Ya walaupun yang baca juga ga banyak-banyak amat, tapi setidaknya menulis blog ini menuangkan beberapa pop ups yang selalu tiba-tiba muncul di kepala dan menguasai mood seluruh hari. Aku hanya merasa bahwa apa yang selalu muncul ini tidak dapat kuceritakan oleh kebanyakan orang. Yang ada, aku takut mereka salah persepsi dan paling penting, ribet. Iya. Ribet. Karena tidak semua orang itu satu frekuensi denganku. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengutarakan apa yang sedang bergumuruh di dalam kepala.

Hal yang paling sering muncul dalam kepalaku yang mini ini adalah mengenai trauma-trauma yang menyertaiku. Disadari atau tidak, aku bertumbuh dewasa hingga umur dua puluh sembilan tahun bersama dengan trauma-trauma yang mungkin terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Terkadang di malam hari, aku bisa saja tidak jadi memejamkan mata karena teringat hal-hal menakutkan yang pernah aku bayangkan ketika kecil. Mulai dari kematian kedua orangtuaku, hingga kematianku sendiri. Kematian adalah sesuatu yang pasti, bukan? Maka tak jarang aku sendiri ketakutan menghadapi bayangan-bayangan serta “prediksi” yang ada di dalam kepala. Sepertinya ada “gemuruh” yang terus menerus bergetar di dalam kepala. Menghantui hingga larut dan akhirnya baru kelelahan menjelang subuh. Aku tidur dalam ketakutan yang luar biasa akan kematian.

Orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan bahwa aku overthinking. Mereka akan dengan mudahnya juga mengatakan untuk membawa ritme hidup yang lebih santai. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di esok hari. Sudah ribuan kata-kata motivasi yang aku tertawakan karena menurutku itu tidak bekerja untuk diriku sendiri. Ketakutan akan banyak hal membuatku terkadang terdiam dan kesedihan menyelimuti diriku sendiri. Bahkan tak jarang aku nampak seperti orang asing bagi teman-teman yang ada di sekitarku karena aku bisa saja berubah menjadi orang yang tak mereka kenal. Hanya dalam sekejap.

Beberapa teman-teman yang mengenali aku dan tahu seluk beluk kehidupanku, mereka mengenalku sebagai orang yang pemarah. Iya. Bahkan akhir-akhir ini aku semakin jauh masuk ke dalam kemarahan karena peristiwa-peristiwa di dalam hidupku membenturkanku ke dalam sebuah kemarahan yang tidak berujung. Bagaimana bisa aku berdamai dengan trauma-trauma ini sedangkan apa yang membuatku trauma adalah sesuatu yang sangat besar, seperti sistem yang ada di negara kita. Aku masih terngiang-ngiang mengenai bagaimana masa kecilku yang harus kunikmati dalam kubangan krisis ekonomi. Melihat dengan mata kepala sendiri serta mengalaminya bagaimana kesenjangan ekonomi dan sosial itu jelas terpampang. Tidak bosan-bosannya aku menceriterakan bagaiamana kesulitan ekonomi itu bukan perkara keinginan atau kemauan untuk bekerja keras. Ini lebih dari itu. Ini perkara bagaimana di negara kita, status sosial dan ekonomi yang cukup mapan jelas memberikan jalan lebar bagi beberapa pihak. Tentu ini tidak terjadi denganku. Beberapa orang mengatakan bahwa itu bisa dinegosiasikan. Ada beberapa teman yang mengatakan bahwa kita harus lebih adaptif. Survival of the fittest. Bukan yang terkuat namun yang paling adaptiflah yang akan bertahan. Tapi kembali lagi, selama apa kita mau “melacurkan” diri untuk menjadi the fittest? Jelas bahwa diri kita sudah terkoyak sejak lahir dengan aturan dan sistem yang tidak pernah sama sekali berpihak pada manusia-manusia yang ada di lapisan bawah, dan paling bawah.

Kemarahan inilah yang membuatku muak untuk menjalani hidup hari demi hari. Menjalani bahwa kehidupan tidak lebih dari sekadar menjalani penderitaan, tidak lebih dari seorang sadomascochist yang menikmati betul bahwa penderitaan ini adalah jouissance, kenikmatan, pleasure, joyfullness. Tapi aku harus hidup. Aku harus bekerja. Aku harus makan untuk menikmati lebih panjang lagi kesengsaraan hidup. Untuk lebih lama lagi menikmati serta melihat orang-orang diperlakukan secara tidak adil. Untuk lebih lama lagi melihat kesenjangan sosial dan ekonomi yang terus melebar setiap harinya. Aku tidak terlalu percaya pada pemerintah sebab dari aku kecil hingga dewasa, tidak satupun orang dalam pemerintahan yang mampu memberikan imaji yang cukup menyenangkan untuk dikenang. Ketika aku masih anak-anak, imaji pemerintahan adalah orang-orang korup yang dengan sewenang-wenang mampu memberikan “daya tawar” kepada masyarakat sosial. Mereka adalah orang yang menggunakan fasilitas negara dari hasil pajak yang dibayarkan oleh kedua orangtuaku. Aku masih mengingat bagaimana aku harus membawa dua jerigen yang masing-masing berisi 5 Liter air untuk kebutuhan sehari-hari. Sedang beberapa meter dari rumahku, pegawai-pegawai Pertamina di jaman itu menikmati kelimpahan air tanpa harus mengeluarkan sepeser rupiah pun.

Kondisi tidak menjadi lebih baik dua puluh tahun kemudian. Sempat menikmati kelegaan karena ekonomi negara ini cukup berkembang secara signifikan. Tapi ujung-ujungnya kondisi negara ini justru menurun. Kita masuk lagi ke dalam fase di mana korupsi merajalela. Dimana kita sudah seharusnya tidak membutuhkan negara lagi sebab tidak ada negara yang hadir dalam keseharian kita kecuali dalam bentuk denda, pajak, dan peraturan. Mungkin pepatah “tidak usah tanyakan apa yang negara lakukan untukmu tetapi tanyakanlah apa yang seharusnya kamu berikan untuk negaramu” tidak sesuai untuk diucapkan hari-hari ini. Pikiranku semakin kalut membayangkan bahwa negara ini sudah semakin kacau. Sudah semakin hingar bingar. Apa yang diatur bukan lagi untuk kebaikan bersama namun lebih kepada kepentingan elitis yang sudah barang tentu ada di pihak orang-orang yang punya kuasa (baik secara ekonomi maupun secara politik). Kita ini cuma deretan angka-angka yang terus bertambah dalam laporan covid-19, kita ini hanya persentase yang masuk dalam hitungan pemilu. Kita hanya dihitung ketika Sensus dan Pemilu. Selain dari itu, kita kehilangan diri kita sendiri di depan the big Others. Lihat bagaimana pemerintah dengan mudahnya membagikan 20 ribu masker kepada para tamu undangan yang hadir dalam hajatan “nabi”. Sedang di lain waktu, kita terus mendesak pemerintah untuk melakukan tes swab PCR secara gratis dan massal.

Belum lagi di negara ini, kita sudah tidak boleh histeris. Kita dituntut untuk selalu nrimo apa adanya. Nrimo ing pandum. Kita tidak boleh mencari saluran “kemarahan” akan situasi yang sudah semakin memuakkan. Adanya UU ITE, Rancangan Undang-Undang Minuman beralkohol, serta banyaknya intel yang berkeliaran di sosial media semakin merujuk pada pendisplinan “histeria” atas kondisi hari ini. Kita ditutut untuk menjalani apa yang ada hari ini. Mencoba melakukan apa yang ada di depan mata. Kita harus bekerja, bekerja dan terus bekerja hingga kita lupa kita ini siapa. Dan di akhir cerita, kita ini sedang berada di terowongan gelap. Sedetik kemudian, kita melihat ada cahaya di ujung terowongan. Beberapa menit kemudian, kita menyadari bahwa cahaya tersebut adalah kereta api yang melintas dan akan menabrak habis diri kita.

Apa yang saya bagi disini adalah pikiran-pikiran yang terus bermain di dalam kepalaku. Ia semakin kuat tiap harinya. Ia semakin nyata tiap harinya. Sedikit lega karena akhirnya dapat kutuliskan ke dalam blog ini setidaknya sebagai penanda bahwa hidup ini memang sedemikian rumitnya untuk dijalani dan tidak setiap dari kita sedang baik-baik saja dewasa ini. Mungkin di lain waktu, akan kubagikan pula letupan-letupan pikiranku serta kemarahanku yang lain. Terimakasih sudah mampir dan membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s