Pendidikan adalah Kunci : Sebuah Ulasan dari Film “Big Brother”

Tadi pagi secara tidak sengaja aku melihat sebuah video tentang ulasan film china ber-genre action comedy Big Brother, sebuah film Hongkong yang dibintangi oleh Donny Yen (dia juga membintangi Sekuel IP MAN). Berkisah mengenai seorang tentara yang datang kembali ke sekolah lamanya untuk menjadi guru. Iya. Dia seorang mantan tentara. Dia keluar dari kesatuannya dan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru. Oh iya. Film ini film action jadi wajar jika banyak gelutnya daripada dramanya. Secara singkat, alur film ini bisa ditebak sih dan masih banyak pula yang harus dikembangkan. Namun film ini kurasa juga dapat menggambarkan bagaimana pendidikan di Indonesia ini berlangsung. Kurasa masalah-masalah yang coba diangkat di dalam film ini hampir mirip dengan apa yang dihadapi di Indonesia.

Aku jelas tidak ingin membahas mengenai bagaimana film ini dibuat. Ini jelas karena saya bukan ahli film. Mari kita serahkan persoalan teknis film pada ahlinya saja. Saya hanya ingin bercerita mengenai seorang teman saya, sebut saja dia PL. Seorang yang aku kenal belum lama, baru setahun terakhir ini mulai akrab dengannya. Kurasa perjalanan PL yang memutuskan untuk menjadi guru di sekolah lamanya mirip dengan jalan cerita yang dialami oleh guru Chen dalam film ini. PL juga terkenal sebagai anak yang bandel dan nakal. Ia juga sempat terlibat dalam geng sekolah. Namun takdir mempertemukan sekolah lamanya dengan dirinya lagi. Ia berani mengambil keputusan untuk masuk ke sekolah lamanya dan menjadi seorang guru. Walau demikian, apa yang dialami oleh PL tentu tidak semulus cerita guru Chen yang ada di film. Yang mengingatkanku lebih jelas adalah bagaimana PL juga berbagi hidup dengan anak-anak yang ia dampingi. Sempat ia berbagi cerita mengenai tantangan-tantangan yang ia hadapi selama menjadi guru. Mulai dari tuduhan menggerakkan geng sekolah hingga dituduh memiliki relasi khusus dengan murid perempuan sempat ia terima. Namun ia tetap menjalani hidupnya sebagai seorang guru, setidaknya sampai hari ini.

Apa yang diangkat dalam film Big Brother ini jelas menggugah saya untuk sedikit menulis ulang pengalaman saya menjadi seorang guru. Saya pernah menjadi seorang guru selama dua tahun dan tahu persis bagaimana anak-anak “nakal” ini memiliki kisah di baliknya, yang tentu jarang banyak orang yang tahu. PL juga pernah menceriterakan hal yang sama. Bagaimana sistem pendidikan kita yang sekarang membebani murid-murid. Relasi guru dan murid semakin kaku dan hanya berpatokan pada nilai ujian serta wacana perguruan tinggi negeri yang selalu memberikan “gelar” kehormatan tersendiri. Padahal, seharusnya pendidikan lebih dari itu. Pendidikan selayaknya dijadikan ruang inkubasi bagi siapapun untuk mengembangkan apa yang mereka cita-citakan. Bukan membatasinya. Apa yang selama ini terjadi adalah luapan-luapan beban yang tidak tersalurkan. Anak “nakal” adalah sebuah bentuk artikulasi dari permasalahan yang lebih besar dari sekadar melanggar aturan. Maka dari itu tidak heran jika tawuran-tawuran terus ada dan geng-geng sekolah tumbuh subur.

Kegelisahanku yang lain setelah menonton film Big Brother adalah bagaimana pendidikan dan sekolah kita tidak pernah jauh dari kata nilai dan peringkat. Mereka bisa berbentuk apapun. Berbentuk lulus ujian SNMPTN, berbentuk cum laude ataupun berbentuk IPK. Nampaknya kita tidak sedang berusaha menikmati proses pendidikan. Yang ada justru murid-murid ini dipaksa untuk duduk dan tertib di dalam kelas. Mendengarkan guru berbicara hingga berbusa. Guru tak kenal murid, dan murid tak kenal siapa gurunya. Maka dari itu tidak heran juga apabila di antara keduanya tidak terjalin komunikasi yang baik. Berbuah gossip dan ngrasani. Apa yang saya bayangkan tentang ruang kelas justru bukan hal semacam ini namun lebih bagaimana kelas mampu menjadi sebuah komunitas yang saling merawat satu sama lainnya. Murid kenal siapa gurunya dan guru kenal siapa muridnya. Sehingga tidak ada lagi prejudice dan judgement yang keliru satu sama lain.

Di tengah kemelut ribut-ribut Omnibus Law, kita bisa melihat bagaimana situasi kelas di Indonesia jaman sekarang. Persis seperti bagaimana komunikasi publik antara pemerintah dan warganya. Tidak nyambung dan saling nggrundhel sendiri. Ingatan-ingatan mengenai kelas yang membosankan, tidur di kelas, cabut dari pelajaran dan pergi ke kantin nampaknya langsung muncul ketika membahas mengenai bagaimana masa-masa sekolah kita lalui. Belum lagi membahas kenakalan-kenakalan yang kita lakukan selama sekolah. Jarang sekali sekolah diingat sebagai sebuah pengalaman dimana mereka bertemu dengan pengetahuan yang mereka cari. Saya sebagai guru pun juga selalu mengingat bagaimana saya minum-minum dengan murid-murid dan akhirnya berbagi kisah satu sama lain. Buatku, kelas itu tidak hanya berarti papan tulis meja dan kursi. Kelas adalah bagaimana saya menikmati perkembangan anak-anak yang dulu saya temani proses belajarnya. Salah satu sosok yang selalu saya ingat adalah bagaimana seorang murid, sebut saja JB, yang terkenal dengan kenakalan dan keras kepalanya, sekarang sedang belajar menulis dan menjadi jurnalis. Bagaimana titik perubahan hidupnya justru membuat saya selalu tersenyum. Keyakinan bahwa semua anak memiliki kemampuannya sendiri-sendiri adalah keyakinan yang harus dipegang teguh oleh seorang guru. Jika tidak, siapa lagi yang akan meyakinkan mereka bahwa mereka mampu? Sedang hubungan mereka dengan orang tua kerap kali renggang karena beban traumatis sewaktu kecil.

Pendidikan adalah kunci, saudara-saudariku yang terkasih. Saya meyakini betul bahwa bangsa ini belum cukup beres mengurusi perihal orang-orang muda yang jumlahnya lebih banyak ketimbang orang-orang tua yang sudah cukup uzur. Jika negara ini masih ingin tetap berdiri dan ada, maka sudah saatnya kita mulai memperhatikan mereka, mendengarkan mereka, dan akhirnya menemani proses mereka. Jika tidak, jangan salahkan kelas-kelas yang berubah menjadi sunyi dan murid-murid yang sekejap menjadi tuli.

(https://www.imdb.com/title/tt7336572/, link IMDB yang penasaran sama filmnya yang mana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s