Menulis adalah caraku untuk merawat diri

Aku mulai menulis sejak SMP karena terpicu film Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi oleh mas Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Sejak saat itu aku mulai bermain kata. Belum lagi pengalaman jatuh cinta dengan perempuan menyuplai energi untuk menulis. Kalau dipikir dan dibaca lagi, aku malu sendiri. Terlalu cemen dan cengeng rasanya. Lantas film mbak Dian Sastrowardoyo (lagi), “Ungu Violet” semakin membuat diriku ingin menulis lebih banyak lagi. Menulis puisi yang mungkin sering hanya berakhir di tong sampah karena malu sendiri setelah membaca. Tapi aku juga pernah menjadi pemuja rahasia yang menitipkan puisi untuk sang idola. Dengan berbekal teman yang mau membantu, setiap hari kuselipkan di laci meja si dia, puisi yang sudah dicetak malam harinya. Jika diingat lagi, itu hal terbodoh dan tergila yang pernah kulakukan. Malu bukan main kalo sekarang masih mengingat hal-hal receh yang demikian.

Pernah juga suatu kali aku mencoba menulis sebuah novel karena lagi-lagi terpicu oleh film The Patriot- Mel Gibson. Bagiku, film itu selalu terngiang-ngiang karena punya daya yang dahsyat karena aku sungguh terpesona dengan keberanian tokoh yang diperankan oleh Mel Gibson. Pemberani melawan semua musuhnya dan yang tak kalah penting adalah bagaimana ia merawat teman-temannya. Membangun sebuah komunitas yang ia rawat hingga perang kemerdekaan Amerika berakhir.

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Menginjak duduk di bangku SMA, tulisanku lebih banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur yang sungguh relijius dan agak sosialis. Maklum saja, aku bersekolah di SMA Seminari Mertoyudan. Sekolah calon pastur. Tiap hari aku menulis, karena memang di sana kami semua diwajibkan untuk menulis refleksi harian. Iya. Setiap hari tanpa putus. Dari sinilah kegelisahan-kegelisahan mulai masuk dan menggantikan fantasi-fantasi masa remaja ketika SMP. Aku mulai menulis mengenai hal-hal yang aku gelisahkan. Bukan lagi melulu mengenai percintaan ataupun asmara. Aku masih ingat bagaimana ketika aku duduk di kelas satu SMA, aku mulai menulis mengenai hutan di Kalimantan. Bagaimana penduduk lokal selalu menjadi kambing hitam akibat kebakaran hutan yang selalu melanda Kalimantan di tiap tahunnya. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah pemusnahan hutan oleh kebun-kebun kelapa sawit dan pembukaan lahan tambang.

Menulis akhirnya menjadi salah satu caraku untuk merawat diri. Aku masih ingat pada akhirnya aku memiliki sebuah diari digital dalam bentuk file Microsoft Word. Aku mulai menulis di file tersebut sejak 2009 hingga sekarang. Kadang geli, lucu dan malu juga ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang berisi rekaman jejak hidupku di 2009. Dan sekarang sudah 2021. Ini berarti file tersebut sudah dua belas tahun lamanya berada di dalam dunia digital dan selalu kusimpan.

Lantas mengapa aku masih saja ketagihan menulis? Pernah suatu kali ketika aku masih menjadi seorang guru, seorang murid bercerita bahwa dirinya juga suka menulis. Lantas ia mulai menulis puisi. Setiap hari. Iya. Setiap hari. Sekejap, aku ingat akan diriku yang sangat gandrung akan menulis. Mengingat bagaimana di umur yang sama, aku juga sangat rakus menulis puisi. Nampaknya seluruh dunia ingin aku tuangkan dalam kanvas kanvas imaji puisi. Hingga muridku bertanya mengenai bagaimana perasaanku jika tulisanku tidak ada yang membaca ataupun tidak ada yang menyukai. Aku terdiam. Lantas aku mengingat bagaimana ketika aku menulis, aku tidak pernah memikirkan siapapun selain diriku sendiri. Aku tidak memikirkan bagaimana nantinya tulisanku akan dibaca. Aku juga tidak mengingat mengenai bagaimana nanti jika tidak ada seorang pun yang sudi membaca tulisanku. Dengan lantang kujawab muridku dengan kata-kata demikian,

Aku ra nggagas, le. Menulis nggo aku adalah caraku menghargai diriku sendiri. Menulis adalah sebuah ruang di mana aku bebas menjadi diriku sendiri dan kadang aku bisa melupakan menjadi seorang Marino. Nulis ya nulis. Sing penting kowe seneng. Sing penting kowe lega. Nulis ki koyo wong ngising. Aku butuh ngetokke opo sing ana ning kepalaku. Perkara wong seneng opo ora, aku ra peduli. Karena menulis adalah satu-satunya ruang di mana aku bisa egois.”

Ya kurang lebih seperti itu. Aku sendiri juga tidak mengingat persis apa yang kukatakan pada muridku. Tapi aku mengajak muridku untuk mulai memikirkan diri sendiri ketika dunia nampak tidak berpihak pada kita semua. Lantas, tulisan adalah caraku untuk merawat diriku sendiri. Caraku untuk merawat kewarasan di tengah kegilaan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s