12:54

Sebatang rokok menyelip di antara sela jari telunjuk dan jari tengahku. Sudah beberapa hari ini hidup tak berjalan seperti biasa. Bukankah hidup tidak pernah benar-benar lancar dan mulus? Di dalam kepalaku terlalu banyak kejadian-kejadian yang terus berulang. Rasa-rasanya seperti televisi yang terus menyala sepanjang hari. Ia memutar adegan-adegan yang sama dan terus menerus diulangi. Begitu rasanya hari ini terjadi. Apa yang aku khawatirkan adalah hidupku sendiri yang akhir-akhir ini tak dapat kujelaskan lagi. Nyaris gila mungkin, sebab tak ada satu manusiapun yang mampu memahami apa yang aku alami kini. Tak ada satu manusiapun.

Kata ayah, hidup memang sedemikian keras. Bagi orang-orang yang lahir di ambang batas garis kemiskinan sepertiku, hidup tak pernah berjalan benar-benar mulus. Sedari kecil, aku selalu dituntut untuk mengubah garis nasib ekonomi keluargaku dan tentunya aku sendiri. Kakakku, si keras kepala itu, justru mampu menembus garis-garis nasib yang keras. Sekarang ia mampu bertahan dalam hidup yang entah berantah ini. Ia mampu mengejawantahkan pesan-pesan ayah mengenai keuntungan seseorang yang memiliki kepala yang begitu keras. Sebab di waktu-waktu tertentu, yang kau punya hanyalah kepalamu yang keras untuk kau benturkan pada realita-realita hidup yang sedemikian kacau balau. Hidup yang indah, itu hanya mimpi-mimpi atau cerita-cerita orang-orang yang sempat beruntung saja. Sisanya, hidup memang sekeras itu. Maka memiliki kepala yang lunak, apalagi dengan emosi-emosi di dalamnya, tentu bukan sebuah keuntungan tersendiri dalam perspektif ayah. Ingat, dunia ini tak pernah benar-benar baik dan tak pernah pula benar-benar jahat.

Aku menghisap kembali sebatang rokok yang ada di sela-sela jariku, berharap perasaan-perasaan yang menggelisahkan ini mampu pergi dariku sejenak. Sebab di waktu-waktu tertentu, mereka sangat suka mampir dan berbincang-bincang. Bajingan itu tak pernah benar-benar pergi dari kepalaku. Laten. Seperti korupsi di negeri ini yang tak pernah benar-benar usai. Persis seperti itu kegelisahan-kegelisahan yang tak pernah usai untuk bermain drama dalam kepalaku. Mungkin seperti sinetron di pukul tujuh malam, yang mampu menghabiskan ribuan episode tapi tentu dengan permasalahan yang itu-itu saja. Tak pernah ada hal yang benar-benar menjadi pembeda. Yang berbeda hanyalah tokoh-tokohnya, mungkin rumah produksinya sudah tidak mampu membayar orang-orang yang terkenal.

Kuhembuskan kembali nafas beserta nikotin yang menyertainya. Aku hanya terus berpikir mengenai kehidupanku kelak, yang masih misteri. Aku teringat akan kata-kata seorang sahabat yang mengatakan bahwa masa depan itu misteri, suci. Kita tak layak untuk membuka selubungnya sedikitpun. Sebab disitulah ‘seni’ dari kehidupan itu sendiri. Bagaimana kita terus menerus terombang-ambing dalam keadaan yang tak pasti. Tetapi di lain waktu, aku mulai mempertanyakan ini. Apakah orang-orang yang cukup beruntung dalam kondisi ekonomi tetap mengambang seperti kami? Ah tentunya. Hanya mereka mengambang dalam tingkat yang berbeda. Tidak perkara hidup dan mati tentunya. Sebab yang mereka pikirkan sudah barang tentu bukan perkara remeh temeh besok masih bisa makan atau tidak.

Entah mengapa aku sulit percaya kali ini. Rasa-rasanya hidupku ini yang paling menderita, padahal jika mau dibandingkan, banyak orang-orang yang justru jauh lebih sengsara daripada apa yang aku alami sekarang. Masih syukur bahwa makanan selalu ada. Ya, walaupun lidah kadang sedikit memberontak karena dalam beberapa hari makan makanan yang sama terus menerus. Lidah tak bisa dibohongi bahwa ia juga bosan dengan kondisi yang gitu-gitu aja. Aku melihat langit, awan yang bergerombol serta burung-burung gereja yang bersembunyi di balik pohon-pohon jambu yang sedang tidak berbuah. Burung-burung itu tampaknya tak khawatir dengan hidup mereka yang entah sampai kapan. Mereka tak bekerja namun masih bisa makan. Masih bisa mencuri-curi bulir-bulir padi dari hasil panen. Walau resikonya, ya mereka dijaring. Digoreng. Tapi begitu kan hidup? Persoalan siapa yang akan hidup lebih lama dan siapa yang hidup lebih singkat. Tak pernah diceritakan dan digambarkan seorang pengemis yang hidupnya lebih bahagia dari seorang yang tinggal di rumah gedongan. Ah tak tahu pasti aku. Sebab pengemis jaman sekarang juga menyimpan duit yang banyak di balik gerobak-gerobak rosok serta karung mereka. Dunia ini benar-benar sandiwara yang tertata rapi dan memainkan naskah yang chaotic.

Indonesia (sebenarnya) adalah Negara Adikuasa

Ada sebersit pikiran pagi ini ketika aku melihat bagaimana drama-drama netizen +62 di sosial media. Hal yang pertama kali muncul adalah bagaimana orang-orang Indonesia ini memiliki kekuasaan yang melebihi negara-negara lain di bumi ini. Salah satunya adalah bagaimana netizen Indonesia mampu membuat trending topic hal-hal remeh temeh. Saya secara tidak sengaja mengikuti kasus antara Dayana, si orang Kazakhstan, dengan Fiki Naki, Youtuber Indonesia yang terkenal dengan kemampuan flirting dalam berbagai bahasanya. Awalnya karena kepo, kenapa sih si Fiki ini sebegitu menariknya bagi orang-orang luar negeri? Apa karena doi mampu berbagai bahasa? Atau ada yang lain? Puncaknya adalah drama Dayana, si orang Kazakhstan. Dayana menyatakan diri mau menikah dengan Fiki Naki, Youtuber flirting ini. Respon netizen Indonesia sungguh luar biasa! Semua orang tiba-tiba ingin belajar bahasa Rusia, Kazakhstan, ataupun bahasa Rumania. Fiki Naki adalah nabi untuk orang-orang yang memimpikan menikah dengan orang-orang bule.

Tapi yang namanya jualan konten di sosial media, ujung-ujungnya ya begitu. Kita semua tahu bahwa itu semua drama. Dayana ternyata memang mengikuti script yang sudah ada. Saya pribadi sangat amat percaya bahwa ini settingan. Terlepas dari ini settingan atau bukan, justru yang menarik adalah bagaimana netizen Indonesia bereaksi dalam hal ini. Pada akhirnya drama Fiki dan Dayana diakhiri dengan terbukanya kehidupan Dayana yang sebenarnya. Netizen Indonesia dengan semangat memburu Dayana, si orang Kazakhstan ini. Mereka ramai-ramai mengulik, mengumbar setiap unggahan Dayana hingga akhirnya Dayana mengaku kalah dalam peperangan dunia maya ini dengan mengunggah sebuah video yang menginginkan agar kehidupan pribadinya tidak diganggu lagi. Lihatlah, betapa berkuasanya netizen Indonesia ini!

Kasus-kasus seperti Dayana bukan kasus yang baru. Kasus lain adalah bagaimana aktris Korea Selatan, Hon Son Hee, salah satu pemeran antagonis dalam serial The World of The Married, diserang oleh komentar-komentar yang berasal dari netizen Indonesia. Belum lagi jika kita masih mengingat bagaimana warga daring Indonesia menyerang semua sosial media negara lain, Vanuatu. Penyebabnya adalah komentar Bob Leighman, Perdana Menteri Vanuatu, yang menginginkan Indonesia mengizinkan komisioner HAM PBB untuk masuk ke Papua Barat. Permasalahan utamanya adalah dugaan Bob adanya pelanggaran HAM di Papua Barat. Pernyataan ini pun langsung mendapatkan respon yang cepat dari perwakilan Indonesia dalam sidang tersebut. Alhasil, unggahan Vanuatu di Instagram dipenuhi oleh komentar-komentar cabul, sarkas, rasis yang berasal netizen Indonesia.

Itu adalah serangan netizen Indonesia. Belum lagi jika kita melihat bagaimana peristiwa-peristiwa di Indonesia mampu trending beberapa kali dalam sosial media. Salah satunya adalah bagaimana peristiwa politik Pemilihan Presiden 2014 yang lalu mampu menduduki peringkat satu dalam trending topics Twitter. Siapa lagi kalau bukan netizen Indonesia pelakunya. Oke, kita akui juga bahwa dalam peristiwa politik tersebut banyak buzzer yang berkeliaran di timeline. Namun terlepas dari itu, kekuatan netizen Indonesia ini sungguh dashyat. Kita menduduki peringkat empat pengguna Instagram terbanyak pada tahun 2019, dengan 56 juta pengguna. Dengan jumlah yang sebesar itu, netizen Indonesia memang sungguh memiliki “otot” yang luar biasa di dunia maya, khususnya sosial media, belum lagi bagaimana netizen Indonesia dikenal “barbar” dalam memberikan komentar. Beberapa kali juga saya mengalami sendiri bagaimana akun @garudarevolution, mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar untuk mengikuti polling online. Waktu itu, polling online tersebut digunakan untuk permainan Piala Dunia virtual. Beberapa negara akan didaftarkan secara acak dan pemenangnya akan ditentukan secara online. Hasilnya? Jelas Indonesia berkali-kali menang telak dalam polling online tersebut.

Saya sebenarnya agak ngeri juga melihat betapa barbarnya netizen Indonesia. Tapi di sisi lain juga menyimpan sedikit kekaguman betapa berkuasanya netizen-netizen Indonesia ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa sebenarnya negara ini adalah negara adikuasa!

Badai Belum Berlalu

Tulisan kali ini saya buat karena sudah lama tidak menulis. Kali ini kegelisahan yang muncul masih mengenai situasi pandemi di negara kita semua, Indonesia. Kegelisahan ini nampaknya menjadi kegelisahan yang tak berkesudahan mengingat kita masih saja berada di dalam pusaran pandemi covid-19. Saya memulai tulisan ini dengan memberikan sebuah analogi yang saya dapatkan dari unggahan instagram Becky Tumewu.

“Kita semua berada dalam badai yang sama namun tidak berada dalam kapal yang sama.”

Analogi ini memberikan saya cara untuk menjelaskan bagaimana situasi yang benar-benar terjadi saat ini. Jujur, saya muak dengan orang-orang yang memaksa dan menginginkan setiap insan di muka bumi nusantara ini untuk tetap di rumah saja. Alasan saya sederhana. Karena masih banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaan sebagai dampak dari pandemi. Belum lagi mereka-mereka yang harus keluar rumah untuk bekerja, untuk mencari sesuap nasi. Nampaknya mereka yang selalu berkeluh kesah dan pada akhirnya menyalahkan warga +62 yang tidak sadar adanya pandemi, adalah orang-orang yang berkeluh kesah di bawah atap rumah mereka. Sedang orang-orang yang mereka salahkan justru tidur beratapkan langit beralaskan bumi. Rasa-rasanya ingin memberikan ‘pemahaman’ bagi kaum-kaum yang dengan mudah menyalahkan orang-orang yang harus tetap keluar, harus mencari sesuap nasi dengan keluar rumah, dengan menjual makanan, dengan membuka warung dan usahanya agar dapur mereka tetap mengebul. Namun nampaknya itu adalah jalan yang sungguh sia-sia untuk ditempuh mengingat kaum-kaum seperti ini memiliki kepala keras yang tahan banting terhadap argumen apapun.

Kembali pada sebuah analogi dari Becky Tumewu. Untuk memahami bahwa kita tidak berada dalam kapal yang sama, itu adalah sebuah usaha yang cukup sulit. Mengapa? Ya karena kita tidak terbiasa untuk “mencoba memakai sepatu orang lain.” Saya punya pengalaman mengenai bagaimana pandemi ini sebenarnya tidak berdampak banyak bagi masyarakat di pedesaan. Tempo hari saya mengambil pekerjaan sebagai seorang enumerator, atau surveyor. Topik surveynya adalah bagaimana persepsi masyarakat terhadap pandemi dan bagaimana efektivitas kebijakan pemerintah, baik daerah maupun pusat. Banyak hal yang saya temukan justru membuka mata saya lebih lebar. Awalnya saya mengira bahwa masyarakat di pedesaan akan sangat terasa dampaknya secara signifikan. Namun apa yang saya temukan justru sebaliknya! Mereka malah mampu menghidupi diri mereka sendiri dengan apa yang mereka kerjakan sebagai petani, sebagai peternak. Mungkin jika mereka lockdown, mereka tidak perlu repot-repot memikirkan makanan karena sudah tersedia di sekeliling mereka. Mereka selalu mengatakan bahwa kampung mereka aman dari corona karena mereka jarang keluar dari desa. Mereka mengatakan bahwa “orang-orang kota” lah yang membawa corona ke desa mereka. Jadi mereka sangat yakin jika tidak ada orang asing yang masuk, mereka tidak akan tertular covid-19. Saya mencoba meletakkan diri saya di perahu mereka dan benar rasanya. Kehidupan mereka sebenarnya tidak banyak berubah. Mereka tetap bertani seperti biasanya. Bedanya, anak-anak lebih banyak waktu untuk bermain sebab sekolah dilaksanakan secara daring. Covid-19 seperti tidak pernah ada di kampung, sebab mobilitas mereka memang sangat terbatas. Mau kemana? Hidup yang monoton dan sangat ritmis membuat mereka yakin bahwa mereka akan selalu aman.

Apa yang perlu kita semua sadari adalah kita sedang menghadapi tegangan yang sungguh nyata. Antara roda ekonomi dan kesehatan. Saya rasa sudah seharusnya kita mulai memberikan sedikit ruang untuk memahami bahwa tidak semua berada dalam kapal yang aman dan nyaman. Ada begitu banyak orang yang harus benar-benar jungkir balik hanya demi memenuhi kebutuhan dasar mereka, makan. Jadi pilihan-pilihan untuk melakukan protokol kesehatan, karantina mandiri ataupun mengkonsumsi vitamin jelas adalah pilihan hidup yang mewah di masa pandemi. Bagaimana mereka menjaga jarak jika rumah mereka tidak cukup luas untuk dihuni oleh empat orang? Belum lagi kebijakan pemerintah yang silih berganti tapi tidak membawa perubahan yang cukup berarti. Ini jelas meletakkan kita benar-benar di atas lautan yang luas, tanpa pedoman, tanpa bantuan. Kita adalah kapal-kapal yang berlayar di lautan pandemi, terkadang saling bertemu, kadang bertabrakan satu sama lain. Jadi mari saling memahami bahwa tidak setiap kapal dalam keadaan ‘layak’ untuk mengarungi lautan pandemi.

Kekuatan Reply 1988 adalah “terlalu biasa”

Ketika melihat serial drama korea yang berjudul Reply 1988, sebenarnya tidak banyak hal yang didapatkan oleh penonton. Anda akan disuguhkan rutinitas orang-orang yang berada di gang Sangmungdong dengan segala semestanya. Anda akan disuguhkan kelompok ibu-ibu yang sering bergosip dan menghabiskan waktunya sembari menanti suami dan anak-anak mereka pulang ke rumah. Anda juga akan melihat konflik-konflik kecil yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mulai dari masalah-masalah ekonomi pada rumah tangga hingga masalah anak-anak remaja di umur belasan. Semuanya disajikan pada serial drama korea Reply 1988.

Bagi saya, itu justru kekuatannya. Di kala serial atau film lain mencoba menarik penontonnya dari kehidupan sehari-hari (dengan menyajikan fantasi percintaan dan kehidupan yang tidak mungkin bagi semua orang), Reply 1988 justru menawarkan banalitas kehidupan. Bagaimana suami pulang dari bekerja dengan kondisi mabuk dan setengah sadar, bagaimana ibu-ibu juga mulai mengkhawatirkan anak-anaknya yang beranjak dewasa hingga bagaimana para warga Sangmungdong ini saling membantu satu sama lain. “Terlalu biasa” inilah yang sulit kudapatkan ketika menyaksikan film-film lain. Bahkan pada film-film Indonesia, jarang sekali ditemukan momen-momen yang “terlalu biasa” ini. Justru yang terlihat adalah “akting” para aktor yang begitu nampak jelas sehingga penonton mungkin mendapat kesan sedang menonton film, bukan kehidupan. Tentu ini berbeda dengan Reply 1988 yang menyajikan imaji dan fantasi yang sebenarnya terlalu “biasa”. Tidak ada konflik yang cukup besar di dalam serial drama ini, namun ia masih sanggup untuk membawa penontonnya masuk dan seolah-olah hadir di tengah-tengah warga Sangmungdong.

Pertanyaan yang muncul dalam kepala saya justru bagaimana film-film Indonesia selama ini masih jauh dari kata “terlalu biasa”. Masih saja ada gap yang terlalu lebar antara kehidupan para penonton dengan apa yang disajikan di dalam tayangan. Salah satunya adalah bagaimana orang-orang yang dihadirkan di dalam film-film Indonesia masih saja terkesan “jauh” dari kenyataan yang hadir di dalam masyarakat Indonesia. Apakah proses riset dan observasi untuk membangun imaji yang hadir di dalam sebuah film tidak dilakukan dengan baik, sehingga kerap kali film Indonesia justru selalu meleset memproyeksikan kehidupan mereka sendiri? Ah, iya, saya lupa jika di negara ini riset dan observasi terlalu banyak dipermainkan di ranah politik sehingga seringkali kita menjadi bangsa yang tahayul, cepat percaya dengan perkataan-perkataan atau wacana sebelum membuktikannya sendiri. Lebih sering mengutamakan viral ketimbang hal-hal lainnya.

Kembali ke Reply 1988. Alasan utama kenapa Reply 1988 harus ditonton adalah karena Reply 1988 memberikan anda kesempatan untuk bernafas dari hiburan-hiburan lain yang mungkin terlalu menguras emosi dan logika. Serial ini sangat ringan namun mampu memberikan anda ruang imaji yang “terlalu biasa” sehingga anda tidak perlu bersusah payah menghabiskan energi anda untuk bermimpi, untuk bersimpati hingga berpikir mengenai alur. Ya mungkin sesekali anda akan larut ke dalam alur keseharian warga Sangmungdong. Namun ketika episode berakhir, anda akan menyadari bahwa kehidupan masih baik-baik saja. Maka jika anda mencari serial untuk ditonton namun anda tidak ingin menguras begitu banyak emosi dan logika, maka saran saya anda harus dan wajib hukumnya melihat Reply 1988.

Akhir kata, saya tidak ingin memberikan banyak kesimpulan apalagi sinopsis. Haram hukumnya. Baiklah saya lanjutkan untuk menonton episode selanjutnya. Dah!

Semua yang Selalu Muncul di Kepalaku

Jadi tulisan kali ini mungkin lebih bernada curhat ketimbang opini atau argumen seperti tulisan-tulisanku yang lain dalam blog ini. Ya walaupun yang baca juga ga banyak-banyak amat, tapi setidaknya menulis blog ini menuangkan beberapa pop ups yang selalu tiba-tiba muncul di kepala dan menguasai mood seluruh hari. Aku hanya merasa bahwa apa yang selalu muncul ini tidak dapat kuceritakan oleh kebanyakan orang. Yang ada, aku takut mereka salah persepsi dan paling penting, ribet. Iya. Ribet. Karena tidak semua orang itu satu frekuensi denganku. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengutarakan apa yang sedang bergumuruh di dalam kepala.

Hal yang paling sering muncul dalam kepalaku yang mini ini adalah mengenai trauma-trauma yang menyertaiku. Disadari atau tidak, aku bertumbuh dewasa hingga umur dua puluh sembilan tahun bersama dengan trauma-trauma yang mungkin terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Terkadang di malam hari, aku bisa saja tidak jadi memejamkan mata karena teringat hal-hal menakutkan yang pernah aku bayangkan ketika kecil. Mulai dari kematian kedua orangtuaku, hingga kematianku sendiri. Kematian adalah sesuatu yang pasti, bukan? Maka tak jarang aku sendiri ketakutan menghadapi bayangan-bayangan serta “prediksi” yang ada di dalam kepala. Sepertinya ada “gemuruh” yang terus menerus bergetar di dalam kepala. Menghantui hingga larut dan akhirnya baru kelelahan menjelang subuh. Aku tidur dalam ketakutan yang luar biasa akan kematian.

Orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan bahwa aku overthinking. Mereka akan dengan mudahnya juga mengatakan untuk membawa ritme hidup yang lebih santai. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di esok hari. Sudah ribuan kata-kata motivasi yang aku tertawakan karena menurutku itu tidak bekerja untuk diriku sendiri. Ketakutan akan banyak hal membuatku terkadang terdiam dan kesedihan menyelimuti diriku sendiri. Bahkan tak jarang aku nampak seperti orang asing bagi teman-teman yang ada di sekitarku karena aku bisa saja berubah menjadi orang yang tak mereka kenal. Hanya dalam sekejap.

Beberapa teman-teman yang mengenali aku dan tahu seluk beluk kehidupanku, mereka mengenalku sebagai orang yang pemarah. Iya. Bahkan akhir-akhir ini aku semakin jauh masuk ke dalam kemarahan karena peristiwa-peristiwa di dalam hidupku membenturkanku ke dalam sebuah kemarahan yang tidak berujung. Bagaimana bisa aku berdamai dengan trauma-trauma ini sedangkan apa yang membuatku trauma adalah sesuatu yang sangat besar, seperti sistem yang ada di negara kita. Aku masih terngiang-ngiang mengenai bagaimana masa kecilku yang harus kunikmati dalam kubangan krisis ekonomi. Melihat dengan mata kepala sendiri serta mengalaminya bagaimana kesenjangan ekonomi dan sosial itu jelas terpampang. Tidak bosan-bosannya aku menceriterakan bagaiamana kesulitan ekonomi itu bukan perkara keinginan atau kemauan untuk bekerja keras. Ini lebih dari itu. Ini perkara bagaimana di negara kita, status sosial dan ekonomi yang cukup mapan jelas memberikan jalan lebar bagi beberapa pihak. Tentu ini tidak terjadi denganku. Beberapa orang mengatakan bahwa itu bisa dinegosiasikan. Ada beberapa teman yang mengatakan bahwa kita harus lebih adaptif. Survival of the fittest. Bukan yang terkuat namun yang paling adaptiflah yang akan bertahan. Tapi kembali lagi, selama apa kita mau “melacurkan” diri untuk menjadi the fittest? Jelas bahwa diri kita sudah terkoyak sejak lahir dengan aturan dan sistem yang tidak pernah sama sekali berpihak pada manusia-manusia yang ada di lapisan bawah, dan paling bawah.

Kemarahan inilah yang membuatku muak untuk menjalani hidup hari demi hari. Menjalani bahwa kehidupan tidak lebih dari sekadar menjalani penderitaan, tidak lebih dari seorang sadomascochist yang menikmati betul bahwa penderitaan ini adalah jouissance, kenikmatan, pleasure, joyfullness. Tapi aku harus hidup. Aku harus bekerja. Aku harus makan untuk menikmati lebih panjang lagi kesengsaraan hidup. Untuk lebih lama lagi menikmati serta melihat orang-orang diperlakukan secara tidak adil. Untuk lebih lama lagi melihat kesenjangan sosial dan ekonomi yang terus melebar setiap harinya. Aku tidak terlalu percaya pada pemerintah sebab dari aku kecil hingga dewasa, tidak satupun orang dalam pemerintahan yang mampu memberikan imaji yang cukup menyenangkan untuk dikenang. Ketika aku masih anak-anak, imaji pemerintahan adalah orang-orang korup yang dengan sewenang-wenang mampu memberikan “daya tawar” kepada masyarakat sosial. Mereka adalah orang yang menggunakan fasilitas negara dari hasil pajak yang dibayarkan oleh kedua orangtuaku. Aku masih mengingat bagaimana aku harus membawa dua jerigen yang masing-masing berisi 5 Liter air untuk kebutuhan sehari-hari. Sedang beberapa meter dari rumahku, pegawai-pegawai Pertamina di jaman itu menikmati kelimpahan air tanpa harus mengeluarkan sepeser rupiah pun.

Kondisi tidak menjadi lebih baik dua puluh tahun kemudian. Sempat menikmati kelegaan karena ekonomi negara ini cukup berkembang secara signifikan. Tapi ujung-ujungnya kondisi negara ini justru menurun. Kita masuk lagi ke dalam fase di mana korupsi merajalela. Dimana kita sudah seharusnya tidak membutuhkan negara lagi sebab tidak ada negara yang hadir dalam keseharian kita kecuali dalam bentuk denda, pajak, dan peraturan. Mungkin pepatah “tidak usah tanyakan apa yang negara lakukan untukmu tetapi tanyakanlah apa yang seharusnya kamu berikan untuk negaramu” tidak sesuai untuk diucapkan hari-hari ini. Pikiranku semakin kalut membayangkan bahwa negara ini sudah semakin kacau. Sudah semakin hingar bingar. Apa yang diatur bukan lagi untuk kebaikan bersama namun lebih kepada kepentingan elitis yang sudah barang tentu ada di pihak orang-orang yang punya kuasa (baik secara ekonomi maupun secara politik). Kita ini cuma deretan angka-angka yang terus bertambah dalam laporan covid-19, kita ini hanya persentase yang masuk dalam hitungan pemilu. Kita hanya dihitung ketika Sensus dan Pemilu. Selain dari itu, kita kehilangan diri kita sendiri di depan the big Others. Lihat bagaimana pemerintah dengan mudahnya membagikan 20 ribu masker kepada para tamu undangan yang hadir dalam hajatan “nabi”. Sedang di lain waktu, kita terus mendesak pemerintah untuk melakukan tes swab PCR secara gratis dan massal.

Belum lagi di negara ini, kita sudah tidak boleh histeris. Kita dituntut untuk selalu nrimo apa adanya. Nrimo ing pandum. Kita tidak boleh mencari saluran “kemarahan” akan situasi yang sudah semakin memuakkan. Adanya UU ITE, Rancangan Undang-Undang Minuman beralkohol, serta banyaknya intel yang berkeliaran di sosial media semakin merujuk pada pendisplinan “histeria” atas kondisi hari ini. Kita ditutut untuk menjalani apa yang ada hari ini. Mencoba melakukan apa yang ada di depan mata. Kita harus bekerja, bekerja dan terus bekerja hingga kita lupa kita ini siapa. Dan di akhir cerita, kita ini sedang berada di terowongan gelap. Sedetik kemudian, kita melihat ada cahaya di ujung terowongan. Beberapa menit kemudian, kita menyadari bahwa cahaya tersebut adalah kereta api yang melintas dan akan menabrak habis diri kita.

Apa yang saya bagi disini adalah pikiran-pikiran yang terus bermain di dalam kepalaku. Ia semakin kuat tiap harinya. Ia semakin nyata tiap harinya. Sedikit lega karena akhirnya dapat kutuliskan ke dalam blog ini setidaknya sebagai penanda bahwa hidup ini memang sedemikian rumitnya untuk dijalani dan tidak setiap dari kita sedang baik-baik saja dewasa ini. Mungkin di lain waktu, akan kubagikan pula letupan-letupan pikiranku serta kemarahanku yang lain. Terimakasih sudah mampir dan membaca.