Pendidikan adalah Kunci : Sebuah Ulasan dari Film “Big Brother”

Tadi pagi secara tidak sengaja aku melihat sebuah video tentang ulasan film china ber-genre action comedy Big Brother, sebuah film Hongkong yang dibintangi oleh Donny Yen (dia juga membintangi Sekuel IP MAN). Berkisah mengenai seorang tentara yang datang kembali ke sekolah lamanya untuk menjadi guru. Iya. Dia seorang mantan tentara. Dia keluar dari kesatuannya dan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru. Oh iya. Film ini film action jadi wajar jika banyak gelutnya daripada dramanya. Secara singkat, alur film ini bisa ditebak sih dan masih banyak pula yang harus dikembangkan. Namun film ini kurasa juga dapat menggambarkan bagaimana pendidikan di Indonesia ini berlangsung. Kurasa masalah-masalah yang coba diangkat di dalam film ini hampir mirip dengan apa yang dihadapi di Indonesia.

Aku jelas tidak ingin membahas mengenai bagaimana film ini dibuat. Ini jelas karena saya bukan ahli film. Mari kita serahkan persoalan teknis film pada ahlinya saja. Saya hanya ingin bercerita mengenai seorang teman saya, sebut saja dia PL. Seorang yang aku kenal belum lama, baru setahun terakhir ini mulai akrab dengannya. Kurasa perjalanan PL yang memutuskan untuk menjadi guru di sekolah lamanya mirip dengan jalan cerita yang dialami oleh guru Chen dalam film ini. PL juga terkenal sebagai anak yang bandel dan nakal. Ia juga sempat terlibat dalam geng sekolah. Namun takdir mempertemukan sekolah lamanya dengan dirinya lagi. Ia berani mengambil keputusan untuk masuk ke sekolah lamanya dan menjadi seorang guru. Walau demikian, apa yang dialami oleh PL tentu tidak semulus cerita guru Chen yang ada di film. Yang mengingatkanku lebih jelas adalah bagaimana PL juga berbagi hidup dengan anak-anak yang ia dampingi. Sempat ia berbagi cerita mengenai tantangan-tantangan yang ia hadapi selama menjadi guru. Mulai dari tuduhan menggerakkan geng sekolah hingga dituduh memiliki relasi khusus dengan murid perempuan sempat ia terima. Namun ia tetap menjalani hidupnya sebagai seorang guru, setidaknya sampai hari ini.

Apa yang diangkat dalam film Big Brother ini jelas menggugah saya untuk sedikit menulis ulang pengalaman saya menjadi seorang guru. Saya pernah menjadi seorang guru selama dua tahun dan tahu persis bagaimana anak-anak “nakal” ini memiliki kisah di baliknya, yang tentu jarang banyak orang yang tahu. PL juga pernah menceriterakan hal yang sama. Bagaimana sistem pendidikan kita yang sekarang membebani murid-murid. Relasi guru dan murid semakin kaku dan hanya berpatokan pada nilai ujian serta wacana perguruan tinggi negeri yang selalu memberikan “gelar” kehormatan tersendiri. Padahal, seharusnya pendidikan lebih dari itu. Pendidikan selayaknya dijadikan ruang inkubasi bagi siapapun untuk mengembangkan apa yang mereka cita-citakan. Bukan membatasinya. Apa yang selama ini terjadi adalah luapan-luapan beban yang tidak tersalurkan. Anak “nakal” adalah sebuah bentuk artikulasi dari permasalahan yang lebih besar dari sekadar melanggar aturan. Maka dari itu tidak heran jika tawuran-tawuran terus ada dan geng-geng sekolah tumbuh subur.

Kegelisahanku yang lain setelah menonton film Big Brother adalah bagaimana pendidikan dan sekolah kita tidak pernah jauh dari kata nilai dan peringkat. Mereka bisa berbentuk apapun. Berbentuk lulus ujian SNMPTN, berbentuk cum laude ataupun berbentuk IPK. Nampaknya kita tidak sedang berusaha menikmati proses pendidikan. Yang ada justru murid-murid ini dipaksa untuk duduk dan tertib di dalam kelas. Mendengarkan guru berbicara hingga berbusa. Guru tak kenal murid, dan murid tak kenal siapa gurunya. Maka dari itu tidak heran juga apabila di antara keduanya tidak terjalin komunikasi yang baik. Berbuah gossip dan ngrasani. Apa yang saya bayangkan tentang ruang kelas justru bukan hal semacam ini namun lebih bagaimana kelas mampu menjadi sebuah komunitas yang saling merawat satu sama lainnya. Murid kenal siapa gurunya dan guru kenal siapa muridnya. Sehingga tidak ada lagi prejudice dan judgement yang keliru satu sama lain.

Di tengah kemelut ribut-ribut Omnibus Law, kita bisa melihat bagaimana situasi kelas di Indonesia jaman sekarang. Persis seperti bagaimana komunikasi publik antara pemerintah dan warganya. Tidak nyambung dan saling nggrundhel sendiri. Ingatan-ingatan mengenai kelas yang membosankan, tidur di kelas, cabut dari pelajaran dan pergi ke kantin nampaknya langsung muncul ketika membahas mengenai bagaimana masa-masa sekolah kita lalui. Belum lagi membahas kenakalan-kenakalan yang kita lakukan selama sekolah. Jarang sekali sekolah diingat sebagai sebuah pengalaman dimana mereka bertemu dengan pengetahuan yang mereka cari. Saya sebagai guru pun juga selalu mengingat bagaimana saya minum-minum dengan murid-murid dan akhirnya berbagi kisah satu sama lain. Buatku, kelas itu tidak hanya berarti papan tulis meja dan kursi. Kelas adalah bagaimana saya menikmati perkembangan anak-anak yang dulu saya temani proses belajarnya. Salah satu sosok yang selalu saya ingat adalah bagaimana seorang murid, sebut saja JB, yang terkenal dengan kenakalan dan keras kepalanya, sekarang sedang belajar menulis dan menjadi jurnalis. Bagaimana titik perubahan hidupnya justru membuat saya selalu tersenyum. Keyakinan bahwa semua anak memiliki kemampuannya sendiri-sendiri adalah keyakinan yang harus dipegang teguh oleh seorang guru. Jika tidak, siapa lagi yang akan meyakinkan mereka bahwa mereka mampu? Sedang hubungan mereka dengan orang tua kerap kali renggang karena beban traumatis sewaktu kecil.

Pendidikan adalah kunci, saudara-saudariku yang terkasih. Saya meyakini betul bahwa bangsa ini belum cukup beres mengurusi perihal orang-orang muda yang jumlahnya lebih banyak ketimbang orang-orang tua yang sudah cukup uzur. Jika negara ini masih ingin tetap berdiri dan ada, maka sudah saatnya kita mulai memperhatikan mereka, mendengarkan mereka, dan akhirnya menemani proses mereka. Jika tidak, jangan salahkan kelas-kelas yang berubah menjadi sunyi dan murid-murid yang sekejap menjadi tuli.

(https://www.imdb.com/title/tt7336572/, link IMDB yang penasaran sama filmnya yang mana)

Catatan Kecil Demonstrasi Omnibus Law

Kali ini saya cuma mau menumpahkan uneg-uneg saya sebagai orang yang pernah ada di kategori balungan kere. Saya masih ingat bagaimana ayah saya selalu menceriterakan mengenai peristiwa ketika dirinya kena PHK. Ia bawa palu ke depan bosnya dan ditaruh di meja kerja si bos. Tanpa babibu, ayahku hanya mengatakan, “nek arep adu atos, ayo. Tak adu sirahmu karo (palu) iki. (Kalo mau adu keras-kerasan, aku bawakan palu biar menguji seberapa keras kepalamu).” Apa yang diminta sederhana. Pesangon. Ketika itu perusahaan pailit dan karyawan terpaksa dikurangi jumlahnya. Awalnya, perusahaan bersikukuh enggan memberikan pesangon. Lha wong bangkrut, kok ya harus banget memberikan pesangon. Duit dari mana ya to? Tapi ayahku tetap bersikukuh bahwa hak pekerja yang diberhentikan adalah pesangon. Uang “selamat jalan” bagi para karyawan yang harus menganggur. Di akhir cerita, pesangon diberikan hanya untuk ayahku sedang teman-teman ayah tidak diberikan. Apa yang didapat ayah, itu pesangon si bos. Bukan dari kantornya.

Ketika demonstrasi mulai merebak di sejumlah daerah di Indonesia, saya tidak heran jika ujungnya memang akan ricuh. Entah itu dibuat oleh oknum-oknum tertentu, ataupun memang pada akhirnya saking alotnya para demonstran ini menunggu. Kebakaran yang menimpa sebuah rumah makan di jalan Maliobor memang harus ditelusuri kembali siapa pelakunya. Iya. Saya yakin pengusaha rumah makan tersebut akan merugi banyak. Saya juga sudah menduga bahwa demonstrasi omnibus law kali ini akan berakhir rusuh. Bagaimana tidak rusuh, jika yang didatangi adalah tempat kekuasaan itu sendiri. Secara naluri alamiah, orang-orang akan melindungi diri. Termasuk para pejabat publik ini. Entah dengan keamanan yang didatangkan dari pihak kepolisian ataupun dari jasa keamanan setempat (alias preman). Demonstrasi adalah kesempatan histeria dimana kita bisa menumpahkan segalanya. Saya merasakan bagaimana saya terpacu untuk berteriak dan lebih agresif dari biasanya. Saya yakin kok mereka-mereka (para pejabat) ini sebenarnya sudah tahu bakal didatangi ribuan orang yang menuntut omnibus law dicabut! Saya sebenarnya juga pengen ikut tapi apa daya, saya masih keder dengan virus corona. Saya masih berpikir berkali lipat untuk ikut aksi. Tapi saya mendukung mereka yang turun ke jalan. Apapun jalannya, saya yakin kita semua melawan undang-undang ngawur ini, yang nyatanya sudah ditolak oleh berbagai pihak (kecuali yang merasa punya privilese dalam hidupnya!)

Ngomong-ngomong tentang privilese, saya jadi teringat bagaimana isu omnibus law ini akhirnya memunculkan kelas-kelas menengah ngehek yang tidak tahu bagaimana caranya malah ikut mendukung peraturan ngawur ini. Banyak pihak yang merasa bahwa omnibus law ini mendukung terciptanya iklim investasi yang akan memberikan banyak pekerjaan. Dalam otak saya, Omnibus Law memang akan memberikan lowongan pekerjaan yang banyak, tetapi kita tidak lebih dari seekor sapi yang terus menerus diperas susunya hingga akhirnya kita mati disembelih! Kita tidak akan diberi upah ketika kita mengambil cuti. Ini sama artinya kita tidak “dianggap” oleh perusahaan. Opero Ergo Sum! (plesetan yang saya buat sendiri dari Cogito ergo sum! Opero (bahasa latin) dari kata Operare yang artinya bekerja) Kita hanya dilihat sebagai makhluk pekerja yang menguntungkan. Apabila kita sudah habis masa kerjanya, maka mereka sudah tidak melihat kita. Paradigma ini yang membuatku gelisah kok ya masih ada saja orang-orang yang melihat ini sebagai sesuatu yang baik. Aneh. Mungkin mereka adalah orang-orang yang tak pernah merasakan bagaimana susahnya kehidupan kelas bawah. Perjuangan keluarga-keluarga yang masih terbelit kesulitan ekonomi terlintas jelas di kepalaku. Balikpapan, ketika masa-masa awal reformasi, adalah tempat yang cukup traumatis bagiku. Aku masih mengingat jelas bagaimana kesenjangan ekonomi itu hadir tidak jauh. Ia sedekat pengalaman masa kecilku yang selalu kesulitan untuk mencari teman yang “setara”. Di kelas, yang diperbincangkan adalah mainan-mainan keluaran terbaru, atau film kartun yang hanya dapat ditonton lewat parabola, yang notabene milik kelas menengah ke atas. Di rumah, antena televisi harus diikat pada tiang yang tinggi untuk mendapat sinyal televisi yang bagus. Itupun masih bersemut. Jadi untuk punya teman, privilese kelas dan kemampuan ekonomi dari keluarga turut menentukan.

Lantas kenapa harus ricuh? Tidak dengan cara yang baik-baik? Mas, mbak, om dan tante. Ada yang namanya aksi kamisan. Sudah digelar selama satu dekade lebih lamanya. Yang dituntut tetap sama. Tentang penelusuran kasus-kasus pelanggaran HAM. Paling banyak memang kasus tragedi semanggi dan lain-lain. Kalian tahu apa yang terjadi? Kasusnya ditutup dan tidak pernah dibuka. Mereka tidak didengarkan! Saya disini melihat bahwa ricuh adalah sebuah konsekuensi dari sebuah proses yang tidak berjalan dengan semestinya. Berapa demonstrasi yang akhirnya didengarkan? Mari berhitung! Kita tidak pernah diberikan ruang negosiasi atas peraturan-peraturan yang diberlakukan di negeri ini! Ketika kita mencoba mengkritik atau memberikan kemungkinan lain, kita langsung dicap anti pemerintah, malah lebih parah dan kerapkali terjadi, dituduh PKI! Apa yang terjadi dengan RUU KPK, yang pada akhirnya tembus menjadi undang-undang, nampaknya belum bisa dilupakan publik secara luas. Demonstrasi besar-besaran yang ada di Indonesia justru tidak pernah dilihat sebagai ketidakpuasan publik. Ia hanya dilihat tidak lebih dari sebuah peristiwa politik yang selalu saja tendensius dan ditunggangi partai politik! Padahal, jika kita melihat lebih dalam, perlahan tapi pasti kita semua sangat tidak bersimpati dengan partai politik! Mereka hanya sekadar kendaraan bagi orang-orang yang punya privilese lebih untuk berkuasa di negeri ini. Tidak lebih. Konflik pasti terjadi ketika pihak-pihak yang ingin didengarkan malah tidak mendapat apa yang mereka inginkan. Lihat saja bagaimana anak kecil selalu menangis dan meronta-ronta, bahkan tidak jarang juga cenderung agresif. Kerumunan massa, aku kira hampir sama dengan anak kecil.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengajak anda-anda yang sekarang berada dalam kelas ekonomi menengah, yang masih bisa MAKAN, TIDUR, bahkan HANGOUT di tengah pandemi. Aku doakan kalian selalu mendapatkan apa yang kalian inginkan. Tetapi cobalah memahami bahwa kaum-kaum balungan kere ini punya logika yang berbeda dengan anda. Itu karena kondisinya jelas berbeda dengan anda. Saya hanya mencontohkan dengan apa yang saya miliki. Kasus di awal tulisan, Ayah saya ingin memukul kepala bos kantornya karena tidak diberi pesangon. Apakah ayah saya tidak “beradab”? Mari pikirkan kembali. Ini masalah hidup orang banyak dan tidak semua orang berpikir se-“beradab” anda. Banyak juga orang-orang yang justru dipaksa untuk memilih cara-cara tidak “beradab” untuk tetap hidup. Bersyukurlah anda jika masih bisa nongkrong dan hura-hura sementara orang-orang seperti saya dan kebanyakan orang lain mungkin masih berjuang untuk bisa makan bulan depan dan bulan-bulan berikutnya!

Surat Dari Kamar Mandi

Resesi, Covid-19, pengangguran, membebani keluarga. Ini adalah kata-kata yang selalu berulang di kepalaku beberapa hari ini terakhir. Entah harus dengan apa aku melawan kecemasan-kecemasan yang ada dan selalu muncul di dalam kepala. Yang jelas, ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata motivasi tai kucing yang sering bersliweran di timeline media sosial manapun. Mau menangis pun, nampaknya tidak menyelesaikan salah satu kecemasan yang ada, ya walaupun juga memberikan sedikit kelegaan. Jujur saja, setelah lulus pascasarjana kajian budaya (ini pun dengan ketar-ketir juga karena hampir saja harus melanjutkan satu semester lagi), impian saya satu per satu pecah berkeping-keping. Dimulai dari gagal menembus untuk menjadi guru di SMA Seminari Mertoyudan, dilanjutkan dengan pandemi covid-19 yang perlahan tapi pasti mengunci diriku sendiri. Pun tidak ada berita yang cukup melegakan dari pemerintah kita, karena nyatanya yang mereka pedulikan hanya persoalan ekonomi makro. Di level mikro, orang-orang mulai bergerak, panik dan ada kemungkinan juga putus asa. Buatku pribadi, sampai detik ini pun, saya masih disokong keluarga secara finansial, walaupun juga sudah berusaha untuk menghasilkan pundi-pundi untuk diri sendiri.

Namun setiap pagi, yang ada di dalam kepala cuma covid-19. Emang keadaan yang macam begini yang membuat asam lambung meningkat tajam setiap hari. Takut tertular dan lagi-lagi ketakutan terbesar justru merepotkan keluarga. Jujur saja, saya marah sama keadaan. Seperti ingin berteriak pada entah siapapun itu untuk menanyakan kapan saya bisa bahagia dalam periode yang cukup lama? Sepertinya benar jika para filsuf-filsuf kritis mengatakan bahwa hidup ini memang diciptakan untuk orang-orang pesimis. Mereka yang mampu skeptis terhadap keadaan, merekalah yang menang dan bertahan. Sedang mereka yang begitu optimis di awal, harus diterjang dengan badai keadaan dan pelbagai masalah hingga akhirnya mereka berada dalam titik terendah dan pada akhirnya bunuh diri. Hidup nampaknya sedemikian menyedihkan hingga kita harus merayakan kesedihan-kesedihan itu, setiap hari. Apalagi di masa pandemi seperti ini, berita kematian atau lelayu kita dengarkan seperti hal yang biasa.

Hal lain yang muncul adalah perasaan yang tak terdeskripsikan mengenai harus menghadapi resesi sekali lagi. 1998 adalah tahun di mana aku sendiri mengalami bagaimana kehidupan begitu menyedihkan. Harus memahami bahwa tidak semua keinginan mampu terwujud, tidak semua kekarepan dengan mudah terwujud. Simbol-simbol traumatik seperti indomie kari ayam dua bungkus menjadi pengingat di mana sebenarnya aku dan balung kere adalah dua hal yang tak terelakkan. Sepertinya adegan-adegan traumatik terputar kembali secara natural. Keringat dingin semakin deras keluar tatkala membaca berita bahwa resesi kali ini menjadi yang terburuk sejak 1998. Dalam hati aku berteriak, “asem ndhes!” Tapi aku (sok) yakin kali ini berbeda dengan sebelumnya sebab kali ini seluruh dunia kolaps. Tidak ada satu pun yang naik tidak seperti tahun 1998. Setidaknya beberapa kali kutemukan manusia-manusia baik hati yang mulai berjejaring untuk menyelamatkan ekonomi. Ya setidaknya bisa makan dulu.

Dan semua hal ini ada di pikiranku, meronta-ronta untuk ditulis dalam blog sebagai hasil dari nongkrong di jamban pada pukul sepuluh pagi dan sempat kuedit setelah berminggu-minggu lamanya naskah ini nganggur di laman draft. Keluar dari kamar mandi dengan rasa lega, saya ingin berkumandang, “Mari bergerak, gandeng kanca-kancamu biar bisa bertahan sejauh mungkin sebab berharap pada pemerintah agar mereka mampu bersimpati adalah mimpi siang bolong! “

Bagaimana Caranya Menjaga Kewarasan?

Ini adalah sebuah tulisan atas apa yang saya rasakan selama pandemi. Mau dianggap sebagai angin lalu juga boleh, dianggap sebagai sebuah curhatan yang mungkin bahasanya terlampau rumit juga boleh. Bebas. Yang penting adalah saya ingin sedikit bercerita tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Ini semua tentang pandemi sialan ini.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Baru saja aku pulang dari dokter. Rasa-rasanya sejak Maret hingga hari ini diriku akrab sekali dengan obat, konsultasi dokter dan lain-lain. Aku mencoba tetap waras! Iya. Kamu ga salah baca. Aku mencoba tetap waras dan bahagia di tengah situasi yang antah berantah. Banyak hal yang harus kupikirkan dan kuberi waktu dalam 24 jam, termasuk kesehatan mentalku sendiri. Pengangguran di era pandemi bukan sebuah status yang mungkin dapat memberikan dirimu kenyamanan dalam tidur di malam hari. Yang pasti, aku harus memikirkan esok hari aku mau makan apa dan apakah ada uang untuk bulan berikutnya. Masalah finansial sebenarnya aku sangat terbantu dengan keluargaku yang masih mau menyokong diriku. Terlepas dari itu, aku masih saja tidak enak hati untuk terus menerus meminta uang dari kedua orang tua dan mbakku. Iya. Di umur yang hampir tiga puluh tahun ini, aku masih saja menyusahkan, setidaknya secara finansial. Fantasi untuk menjadi manusia yang mandiri nampaknya masih jauh, jika dilihat dari kondisi ekonomi sekarang. Aku sudah mencoba hampir semuanya. Hasilnya, masih beruntung hingga hari ini aku bisa makan. Setidaknya hingga bulan Maret 2021, aku memastikan bahwa rekeningku belum amblas karena ada beberapa proyek yang aku kerjakan hingga bulan Maret 2021.

Nah tantangan terbesar setiap hari adalah tidur malam. Ketika malam, aku kerap terbelalak lengkap dengan ketakutan yang masih berbentuk “Bagaimana jika nanti…”. Mereka ada dan muncul seketika aku ingin memejamkan mata. Sialan! Kondisi kurang tidur inilah yang berimbas pada kesehatan fisikku. Bulan Maret aku ke dokter BPJS untuk pertama kali. Aku parno karena sempat sakit tenggorokan dan demam beberapa hari. Bulan April masih masalah yang sama. Awal september, aku kembali konsultasi dengan keluhan herpes. Iya. Herpes. Di sela-sela pergelangan kakiku. Dan baru saja aku kembali konsultasi dari dokter BPJS karena masalah batuk. Batuk dan keringat di malam hari. Untung saja tidak demam. Tapi tetap saja aku waswas. Apalagi kita sudah mulai dipaksa untuk menjadi masochist dengan ujaran pemerintah yang mengajak rakyatnya berdamai dengan pandemi ini. Aku rasa kata masochist tepat untuk menggambarkan bagaimana pemerintah mengajak warganya untuk ramai-ramai menikmati penderitaan. Tentu saja ajakan ini hanya berlaku untuk kaum-kaum menengah ke bawah. Untuk kelas menengah ke atas, mereka masih punya pilihan, walau juga sedikit.

Tegangan-tegangan hidup antara kutub ekonomi dan kesehatan inilah yang membuat diriku ambyar. Seringkali aku merasa lelah dengan apa yang aku hadapi dan seolah-olah tidak ada ruang untuk beristirahat. Kurasa aku mulai mencari cara untuk tetap waras secara mental dan fisik dalam masa pandemi ini. Sempat kukira corona ini hanya permainan institusi ataupun elit belaka. Namun kenyataannya corona nampak semakin dekat dan masuk ke dalam circle pertemanan yang lebih intens. Di sisi lain, tidak ada usaha yang berarti dari pemerintah kepada para warga negaranya ini. Untung saja masih ada jaminan sosial BPJS (walau juga harus bayar). Hidup nampaknya semakin susah saja untuk dijalani dan aku semakin hari semakin sulit menemukan cara-cara untuk kembali menjadi waras. Kepada para pembaca yang budiman sekalian, maukah anda berbagi cara untuk menjaga kewarasan? Aku mencoba dengan menulis ini. Walaupun juga masih saja ada residu-residu yang tertinggal.

Ruang sadistik

Aku semakin memahami manusia beserta kerumitannya lewat meneliti fenomena klitih. Beberapa pelaku yang pada akhirnya menjadi teman justru memberikan banyak insight baru tentang hidup yang memang sudah ruwet. Kebiasaan melihat sesuatu hanya dari satu sisi (atau bisa juga disebut doktrinasi) justru menambah keruwetan untuk melihat klitih. Klitih itu bola panas. Yang bisa dipakai oleh siapa saja untuk kepentingan apa saja. Ia memang nampaknya sengaja dipelihara untuk membayar perdamaian yang ada di Jogja. Nampaknya begitu. Sebab ia rak pernah dilihat serius sebagai sebuah bentuk keresahan anak muda atas ruang hidup yang hilang di Jogjakarta. Anak muda semakin dihimpit oleh sekat-sekat kosmopolit dan sekat ekonomis. Hanya orang muda yang berdompet tebal yang mampu bernafas di Jogja. Sedang yang nafas finansialnya masih tersengal, ya mau tidak mau harus berjibaku di jalanan. Berebut lahan dengan investor, dengan tuan yang mau membayar lebih. Siapa yang kuat itu yang bertahan.

Namun di tengah perumitan itu, nyaris tidak pernah dilihat orang bahwa klitih menyatukan banyak pihak. Bahwa klitih bisa menjadi ruang untuk orang-orang marah, histeris. Bebas. Aturannya hanya satu. Kau tidak boleh mundur. Sekali mengayun pantang untuk mundur. Mati itu harga yang harus dibayar untuk meluapkan emosi untuk melawan rasa sesak karena kebutuhan ekonomi, kekecewaan hidup yang antah berantah hingga mencari jatidiri. Media bisa bilang A-z tentang klitih. Yang pasti mereka tidak merasakan serunya adrenalin yang terpacu kala batas antara hidup dan mati mungkin hanya dihitung dalam satuan detik. Toh, mereka tidak paham bagaimana nikmatnya menghunus saber sebagai pelampiasan atas stigma hidup yang penuh dengan kebajingan daripada kebajikan. Sekali lagi, klitih memberikan ruang-ruang yang lebih bersahabat ketimbang ruang-ruang kelas di sekolah. Di sana mereka bebas dari stigma. Mereka bebas dari judgement. Mereka hakim, sekaligus tuhan mini yang mampu menentukan mana yang apes dan mana yang tidak. Di sanalah, mereka lari dari tuntutan harus masuk perguruan tinggi negeri, harus jadi PNS, harus jadi pelajar teladan atau harus jadi pengusaha kaya. Toh, Jogja memang selayaknya ibu yang tak pilih kasih memberikan ruang bagi siapapun yang datang kepadanya. Termasuk ruang yang sadis dan penuh emosi.