Kekuatan Reply 1988 adalah “terlalu biasa”

Ketika melihat serial drama korea yang berjudul Reply 1988, sebenarnya tidak banyak hal yang didapatkan oleh penonton. Anda akan disuguhkan rutinitas orang-orang yang berada di gang Sangmungdong dengan segala semestanya. Anda akan disuguhkan kelompok ibu-ibu yang sering bergosip dan menghabiskan waktunya sembari menanti suami dan anak-anak mereka pulang ke rumah. Anda juga akan melihat konflik-konflik kecil yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mulai dari masalah-masalah ekonomi pada rumah tangga hingga masalah anak-anak remaja di umur belasan. Semuanya disajikan pada serial drama korea Reply 1988.

Bagi saya, itu justru kekuatannya. Di kala serial atau film lain mencoba menarik penontonnya dari kehidupan sehari-hari (dengan menyajikan fantasi percintaan dan kehidupan yang tidak mungkin bagi semua orang), Reply 1988 justru menawarkan banalitas kehidupan. Bagaimana suami pulang dari bekerja dengan kondisi mabuk dan setengah sadar, bagaimana ibu-ibu juga mulai mengkhawatirkan anak-anaknya yang beranjak dewasa hingga bagaimana para warga Sangmungdong ini saling membantu satu sama lain. “Terlalu biasa” inilah yang sulit kudapatkan ketika menyaksikan film-film lain. Bahkan pada film-film Indonesia, jarang sekali ditemukan momen-momen yang “terlalu biasa” ini. Justru yang terlihat adalah “akting” para aktor yang begitu nampak jelas sehingga penonton mungkin mendapat kesan sedang menonton film, bukan kehidupan. Tentu ini berbeda dengan Reply 1988 yang menyajikan imaji dan fantasi yang sebenarnya terlalu “biasa”. Tidak ada konflik yang cukup besar di dalam serial drama ini, namun ia masih sanggup untuk membawa penontonnya masuk dan seolah-olah hadir di tengah-tengah warga Sangmungdong.

Pertanyaan yang muncul dalam kepala saya justru bagaimana film-film Indonesia selama ini masih jauh dari kata “terlalu biasa”. Masih saja ada gap yang terlalu lebar antara kehidupan para penonton dengan apa yang disajikan di dalam tayangan. Salah satunya adalah bagaimana orang-orang yang dihadirkan di dalam film-film Indonesia masih saja terkesan “jauh” dari kenyataan yang hadir di dalam masyarakat Indonesia. Apakah proses riset dan observasi untuk membangun imaji yang hadir di dalam sebuah film tidak dilakukan dengan baik, sehingga kerap kali film Indonesia justru selalu meleset memproyeksikan kehidupan mereka sendiri? Ah, iya, saya lupa jika di negara ini riset dan observasi terlalu banyak dipermainkan di ranah politik sehingga seringkali kita menjadi bangsa yang tahayul, cepat percaya dengan perkataan-perkataan atau wacana sebelum membuktikannya sendiri. Lebih sering mengutamakan viral ketimbang hal-hal lainnya.

Kembali ke Reply 1988. Alasan utama kenapa Reply 1988 harus ditonton adalah karena Reply 1988 memberikan anda kesempatan untuk bernafas dari hiburan-hiburan lain yang mungkin terlalu menguras emosi dan logika. Serial ini sangat ringan namun mampu memberikan anda ruang imaji yang “terlalu biasa” sehingga anda tidak perlu bersusah payah menghabiskan energi anda untuk bermimpi, untuk bersimpati hingga berpikir mengenai alur. Ya mungkin sesekali anda akan larut ke dalam alur keseharian warga Sangmungdong. Namun ketika episode berakhir, anda akan menyadari bahwa kehidupan masih baik-baik saja. Maka jika anda mencari serial untuk ditonton namun anda tidak ingin menguras begitu banyak emosi dan logika, maka saran saya anda harus dan wajib hukumnya melihat Reply 1988.

Akhir kata, saya tidak ingin memberikan banyak kesimpulan apalagi sinopsis. Haram hukumnya. Baiklah saya lanjutkan untuk menonton episode selanjutnya. Dah!

Semua yang Selalu Muncul di Kepalaku

Jadi tulisan kali ini mungkin lebih bernada curhat ketimbang opini atau argumen seperti tulisan-tulisanku yang lain dalam blog ini. Ya walaupun yang baca juga ga banyak-banyak amat, tapi setidaknya menulis blog ini menuangkan beberapa pop ups yang selalu tiba-tiba muncul di kepala dan menguasai mood seluruh hari. Aku hanya merasa bahwa apa yang selalu muncul ini tidak dapat kuceritakan oleh kebanyakan orang. Yang ada, aku takut mereka salah persepsi dan paling penting, ribet. Iya. Ribet. Karena tidak semua orang itu satu frekuensi denganku. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengutarakan apa yang sedang bergumuruh di dalam kepala.

Hal yang paling sering muncul dalam kepalaku yang mini ini adalah mengenai trauma-trauma yang menyertaiku. Disadari atau tidak, aku bertumbuh dewasa hingga umur dua puluh sembilan tahun bersama dengan trauma-trauma yang mungkin terjadi secara sengaja ataupun tidak sengaja. Terkadang di malam hari, aku bisa saja tidak jadi memejamkan mata karena teringat hal-hal menakutkan yang pernah aku bayangkan ketika kecil. Mulai dari kematian kedua orangtuaku, hingga kematianku sendiri. Kematian adalah sesuatu yang pasti, bukan? Maka tak jarang aku sendiri ketakutan menghadapi bayangan-bayangan serta “prediksi” yang ada di dalam kepala. Sepertinya ada “gemuruh” yang terus menerus bergetar di dalam kepala. Menghantui hingga larut dan akhirnya baru kelelahan menjelang subuh. Aku tidur dalam ketakutan yang luar biasa akan kematian.

Orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan bahwa aku overthinking. Mereka akan dengan mudahnya juga mengatakan untuk membawa ritme hidup yang lebih santai. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi di esok hari. Sudah ribuan kata-kata motivasi yang aku tertawakan karena menurutku itu tidak bekerja untuk diriku sendiri. Ketakutan akan banyak hal membuatku terkadang terdiam dan kesedihan menyelimuti diriku sendiri. Bahkan tak jarang aku nampak seperti orang asing bagi teman-teman yang ada di sekitarku karena aku bisa saja berubah menjadi orang yang tak mereka kenal. Hanya dalam sekejap.

Beberapa teman-teman yang mengenali aku dan tahu seluk beluk kehidupanku, mereka mengenalku sebagai orang yang pemarah. Iya. Bahkan akhir-akhir ini aku semakin jauh masuk ke dalam kemarahan karena peristiwa-peristiwa di dalam hidupku membenturkanku ke dalam sebuah kemarahan yang tidak berujung. Bagaimana bisa aku berdamai dengan trauma-trauma ini sedangkan apa yang membuatku trauma adalah sesuatu yang sangat besar, seperti sistem yang ada di negara kita. Aku masih terngiang-ngiang mengenai bagaimana masa kecilku yang harus kunikmati dalam kubangan krisis ekonomi. Melihat dengan mata kepala sendiri serta mengalaminya bagaimana kesenjangan ekonomi dan sosial itu jelas terpampang. Tidak bosan-bosannya aku menceriterakan bagaiamana kesulitan ekonomi itu bukan perkara keinginan atau kemauan untuk bekerja keras. Ini lebih dari itu. Ini perkara bagaimana di negara kita, status sosial dan ekonomi yang cukup mapan jelas memberikan jalan lebar bagi beberapa pihak. Tentu ini tidak terjadi denganku. Beberapa orang mengatakan bahwa itu bisa dinegosiasikan. Ada beberapa teman yang mengatakan bahwa kita harus lebih adaptif. Survival of the fittest. Bukan yang terkuat namun yang paling adaptiflah yang akan bertahan. Tapi kembali lagi, selama apa kita mau “melacurkan” diri untuk menjadi the fittest? Jelas bahwa diri kita sudah terkoyak sejak lahir dengan aturan dan sistem yang tidak pernah sama sekali berpihak pada manusia-manusia yang ada di lapisan bawah, dan paling bawah.

Kemarahan inilah yang membuatku muak untuk menjalani hidup hari demi hari. Menjalani bahwa kehidupan tidak lebih dari sekadar menjalani penderitaan, tidak lebih dari seorang sadomascochist yang menikmati betul bahwa penderitaan ini adalah jouissance, kenikmatan, pleasure, joyfullness. Tapi aku harus hidup. Aku harus bekerja. Aku harus makan untuk menikmati lebih panjang lagi kesengsaraan hidup. Untuk lebih lama lagi menikmati serta melihat orang-orang diperlakukan secara tidak adil. Untuk lebih lama lagi melihat kesenjangan sosial dan ekonomi yang terus melebar setiap harinya. Aku tidak terlalu percaya pada pemerintah sebab dari aku kecil hingga dewasa, tidak satupun orang dalam pemerintahan yang mampu memberikan imaji yang cukup menyenangkan untuk dikenang. Ketika aku masih anak-anak, imaji pemerintahan adalah orang-orang korup yang dengan sewenang-wenang mampu memberikan “daya tawar” kepada masyarakat sosial. Mereka adalah orang yang menggunakan fasilitas negara dari hasil pajak yang dibayarkan oleh kedua orangtuaku. Aku masih mengingat bagaimana aku harus membawa dua jerigen yang masing-masing berisi 5 Liter air untuk kebutuhan sehari-hari. Sedang beberapa meter dari rumahku, pegawai-pegawai Pertamina di jaman itu menikmati kelimpahan air tanpa harus mengeluarkan sepeser rupiah pun.

Kondisi tidak menjadi lebih baik dua puluh tahun kemudian. Sempat menikmati kelegaan karena ekonomi negara ini cukup berkembang secara signifikan. Tapi ujung-ujungnya kondisi negara ini justru menurun. Kita masuk lagi ke dalam fase di mana korupsi merajalela. Dimana kita sudah seharusnya tidak membutuhkan negara lagi sebab tidak ada negara yang hadir dalam keseharian kita kecuali dalam bentuk denda, pajak, dan peraturan. Mungkin pepatah “tidak usah tanyakan apa yang negara lakukan untukmu tetapi tanyakanlah apa yang seharusnya kamu berikan untuk negaramu” tidak sesuai untuk diucapkan hari-hari ini. Pikiranku semakin kalut membayangkan bahwa negara ini sudah semakin kacau. Sudah semakin hingar bingar. Apa yang diatur bukan lagi untuk kebaikan bersama namun lebih kepada kepentingan elitis yang sudah barang tentu ada di pihak orang-orang yang punya kuasa (baik secara ekonomi maupun secara politik). Kita ini cuma deretan angka-angka yang terus bertambah dalam laporan covid-19, kita ini hanya persentase yang masuk dalam hitungan pemilu. Kita hanya dihitung ketika Sensus dan Pemilu. Selain dari itu, kita kehilangan diri kita sendiri di depan the big Others. Lihat bagaimana pemerintah dengan mudahnya membagikan 20 ribu masker kepada para tamu undangan yang hadir dalam hajatan “nabi”. Sedang di lain waktu, kita terus mendesak pemerintah untuk melakukan tes swab PCR secara gratis dan massal.

Belum lagi di negara ini, kita sudah tidak boleh histeris. Kita dituntut untuk selalu nrimo apa adanya. Nrimo ing pandum. Kita tidak boleh mencari saluran “kemarahan” akan situasi yang sudah semakin memuakkan. Adanya UU ITE, Rancangan Undang-Undang Minuman beralkohol, serta banyaknya intel yang berkeliaran di sosial media semakin merujuk pada pendisplinan “histeria” atas kondisi hari ini. Kita ditutut untuk menjalani apa yang ada hari ini. Mencoba melakukan apa yang ada di depan mata. Kita harus bekerja, bekerja dan terus bekerja hingga kita lupa kita ini siapa. Dan di akhir cerita, kita ini sedang berada di terowongan gelap. Sedetik kemudian, kita melihat ada cahaya di ujung terowongan. Beberapa menit kemudian, kita menyadari bahwa cahaya tersebut adalah kereta api yang melintas dan akan menabrak habis diri kita.

Apa yang saya bagi disini adalah pikiran-pikiran yang terus bermain di dalam kepalaku. Ia semakin kuat tiap harinya. Ia semakin nyata tiap harinya. Sedikit lega karena akhirnya dapat kutuliskan ke dalam blog ini setidaknya sebagai penanda bahwa hidup ini memang sedemikian rumitnya untuk dijalani dan tidak setiap dari kita sedang baik-baik saja dewasa ini. Mungkin di lain waktu, akan kubagikan pula letupan-letupan pikiranku serta kemarahanku yang lain. Terimakasih sudah mampir dan membaca.

Pendidikan adalah Kunci : Sebuah Ulasan dari Film “Big Brother”

Tadi pagi secara tidak sengaja aku melihat sebuah video tentang ulasan film china ber-genre action comedy Big Brother, sebuah film Hongkong yang dibintangi oleh Donny Yen (dia juga membintangi Sekuel IP MAN). Berkisah mengenai seorang tentara yang datang kembali ke sekolah lamanya untuk menjadi guru. Iya. Dia seorang mantan tentara. Dia keluar dari kesatuannya dan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru. Oh iya. Film ini film action jadi wajar jika banyak gelutnya daripada dramanya. Secara singkat, alur film ini bisa ditebak sih dan masih banyak pula yang harus dikembangkan. Namun film ini kurasa juga dapat menggambarkan bagaimana pendidikan di Indonesia ini berlangsung. Kurasa masalah-masalah yang coba diangkat di dalam film ini hampir mirip dengan apa yang dihadapi di Indonesia.

Aku jelas tidak ingin membahas mengenai bagaimana film ini dibuat. Ini jelas karena saya bukan ahli film. Mari kita serahkan persoalan teknis film pada ahlinya saja. Saya hanya ingin bercerita mengenai seorang teman saya, sebut saja dia PL. Seorang yang aku kenal belum lama, baru setahun terakhir ini mulai akrab dengannya. Kurasa perjalanan PL yang memutuskan untuk menjadi guru di sekolah lamanya mirip dengan jalan cerita yang dialami oleh guru Chen dalam film ini. PL juga terkenal sebagai anak yang bandel dan nakal. Ia juga sempat terlibat dalam geng sekolah. Namun takdir mempertemukan sekolah lamanya dengan dirinya lagi. Ia berani mengambil keputusan untuk masuk ke sekolah lamanya dan menjadi seorang guru. Walau demikian, apa yang dialami oleh PL tentu tidak semulus cerita guru Chen yang ada di film. Yang mengingatkanku lebih jelas adalah bagaimana PL juga berbagi hidup dengan anak-anak yang ia dampingi. Sempat ia berbagi cerita mengenai tantangan-tantangan yang ia hadapi selama menjadi guru. Mulai dari tuduhan menggerakkan geng sekolah hingga dituduh memiliki relasi khusus dengan murid perempuan sempat ia terima. Namun ia tetap menjalani hidupnya sebagai seorang guru, setidaknya sampai hari ini.

Apa yang diangkat dalam film Big Brother ini jelas menggugah saya untuk sedikit menulis ulang pengalaman saya menjadi seorang guru. Saya pernah menjadi seorang guru selama dua tahun dan tahu persis bagaimana anak-anak “nakal” ini memiliki kisah di baliknya, yang tentu jarang banyak orang yang tahu. PL juga pernah menceriterakan hal yang sama. Bagaimana sistem pendidikan kita yang sekarang membebani murid-murid. Relasi guru dan murid semakin kaku dan hanya berpatokan pada nilai ujian serta wacana perguruan tinggi negeri yang selalu memberikan “gelar” kehormatan tersendiri. Padahal, seharusnya pendidikan lebih dari itu. Pendidikan selayaknya dijadikan ruang inkubasi bagi siapapun untuk mengembangkan apa yang mereka cita-citakan. Bukan membatasinya. Apa yang selama ini terjadi adalah luapan-luapan beban yang tidak tersalurkan. Anak “nakal” adalah sebuah bentuk artikulasi dari permasalahan yang lebih besar dari sekadar melanggar aturan. Maka dari itu tidak heran jika tawuran-tawuran terus ada dan geng-geng sekolah tumbuh subur.

Kegelisahanku yang lain setelah menonton film Big Brother adalah bagaimana pendidikan dan sekolah kita tidak pernah jauh dari kata nilai dan peringkat. Mereka bisa berbentuk apapun. Berbentuk lulus ujian SNMPTN, berbentuk cum laude ataupun berbentuk IPK. Nampaknya kita tidak sedang berusaha menikmati proses pendidikan. Yang ada justru murid-murid ini dipaksa untuk duduk dan tertib di dalam kelas. Mendengarkan guru berbicara hingga berbusa. Guru tak kenal murid, dan murid tak kenal siapa gurunya. Maka dari itu tidak heran juga apabila di antara keduanya tidak terjalin komunikasi yang baik. Berbuah gossip dan ngrasani. Apa yang saya bayangkan tentang ruang kelas justru bukan hal semacam ini namun lebih bagaimana kelas mampu menjadi sebuah komunitas yang saling merawat satu sama lainnya. Murid kenal siapa gurunya dan guru kenal siapa muridnya. Sehingga tidak ada lagi prejudice dan judgement yang keliru satu sama lain.

Di tengah kemelut ribut-ribut Omnibus Law, kita bisa melihat bagaimana situasi kelas di Indonesia jaman sekarang. Persis seperti bagaimana komunikasi publik antara pemerintah dan warganya. Tidak nyambung dan saling nggrundhel sendiri. Ingatan-ingatan mengenai kelas yang membosankan, tidur di kelas, cabut dari pelajaran dan pergi ke kantin nampaknya langsung muncul ketika membahas mengenai bagaimana masa-masa sekolah kita lalui. Belum lagi membahas kenakalan-kenakalan yang kita lakukan selama sekolah. Jarang sekali sekolah diingat sebagai sebuah pengalaman dimana mereka bertemu dengan pengetahuan yang mereka cari. Saya sebagai guru pun juga selalu mengingat bagaimana saya minum-minum dengan murid-murid dan akhirnya berbagi kisah satu sama lain. Buatku, kelas itu tidak hanya berarti papan tulis meja dan kursi. Kelas adalah bagaimana saya menikmati perkembangan anak-anak yang dulu saya temani proses belajarnya. Salah satu sosok yang selalu saya ingat adalah bagaimana seorang murid, sebut saja JB, yang terkenal dengan kenakalan dan keras kepalanya, sekarang sedang belajar menulis dan menjadi jurnalis. Bagaimana titik perubahan hidupnya justru membuat saya selalu tersenyum. Keyakinan bahwa semua anak memiliki kemampuannya sendiri-sendiri adalah keyakinan yang harus dipegang teguh oleh seorang guru. Jika tidak, siapa lagi yang akan meyakinkan mereka bahwa mereka mampu? Sedang hubungan mereka dengan orang tua kerap kali renggang karena beban traumatis sewaktu kecil.

Pendidikan adalah kunci, saudara-saudariku yang terkasih. Saya meyakini betul bahwa bangsa ini belum cukup beres mengurusi perihal orang-orang muda yang jumlahnya lebih banyak ketimbang orang-orang tua yang sudah cukup uzur. Jika negara ini masih ingin tetap berdiri dan ada, maka sudah saatnya kita mulai memperhatikan mereka, mendengarkan mereka, dan akhirnya menemani proses mereka. Jika tidak, jangan salahkan kelas-kelas yang berubah menjadi sunyi dan murid-murid yang sekejap menjadi tuli.

(https://www.imdb.com/title/tt7336572/, link IMDB yang penasaran sama filmnya yang mana)

Catatan Kecil Demonstrasi Omnibus Law

Kali ini saya cuma mau menumpahkan uneg-uneg saya sebagai orang yang pernah ada di kategori balungan kere. Saya masih ingat bagaimana ayah saya selalu menceriterakan mengenai peristiwa ketika dirinya kena PHK. Ia bawa palu ke depan bosnya dan ditaruh di meja kerja si bos. Tanpa babibu, ayahku hanya mengatakan, “nek arep adu atos, ayo. Tak adu sirahmu karo (palu) iki. (Kalo mau adu keras-kerasan, aku bawakan palu biar menguji seberapa keras kepalamu).” Apa yang diminta sederhana. Pesangon. Ketika itu perusahaan pailit dan karyawan terpaksa dikurangi jumlahnya. Awalnya, perusahaan bersikukuh enggan memberikan pesangon. Lha wong bangkrut, kok ya harus banget memberikan pesangon. Duit dari mana ya to? Tapi ayahku tetap bersikukuh bahwa hak pekerja yang diberhentikan adalah pesangon. Uang “selamat jalan” bagi para karyawan yang harus menganggur. Di akhir cerita, pesangon diberikan hanya untuk ayahku sedang teman-teman ayah tidak diberikan. Apa yang didapat ayah, itu pesangon si bos. Bukan dari kantornya.

Ketika demonstrasi mulai merebak di sejumlah daerah di Indonesia, saya tidak heran jika ujungnya memang akan ricuh. Entah itu dibuat oleh oknum-oknum tertentu, ataupun memang pada akhirnya saking alotnya para demonstran ini menunggu. Kebakaran yang menimpa sebuah rumah makan di jalan Maliobor memang harus ditelusuri kembali siapa pelakunya. Iya. Saya yakin pengusaha rumah makan tersebut akan merugi banyak. Saya juga sudah menduga bahwa demonstrasi omnibus law kali ini akan berakhir rusuh. Bagaimana tidak rusuh, jika yang didatangi adalah tempat kekuasaan itu sendiri. Secara naluri alamiah, orang-orang akan melindungi diri. Termasuk para pejabat publik ini. Entah dengan keamanan yang didatangkan dari pihak kepolisian ataupun dari jasa keamanan setempat (alias preman). Demonstrasi adalah kesempatan histeria dimana kita bisa menumpahkan segalanya. Saya merasakan bagaimana saya terpacu untuk berteriak dan lebih agresif dari biasanya. Saya yakin kok mereka-mereka (para pejabat) ini sebenarnya sudah tahu bakal didatangi ribuan orang yang menuntut omnibus law dicabut! Saya sebenarnya juga pengen ikut tapi apa daya, saya masih keder dengan virus corona. Saya masih berpikir berkali lipat untuk ikut aksi. Tapi saya mendukung mereka yang turun ke jalan. Apapun jalannya, saya yakin kita semua melawan undang-undang ngawur ini, yang nyatanya sudah ditolak oleh berbagai pihak (kecuali yang merasa punya privilese dalam hidupnya!)

Ngomong-ngomong tentang privilese, saya jadi teringat bagaimana isu omnibus law ini akhirnya memunculkan kelas-kelas menengah ngehek yang tidak tahu bagaimana caranya malah ikut mendukung peraturan ngawur ini. Banyak pihak yang merasa bahwa omnibus law ini mendukung terciptanya iklim investasi yang akan memberikan banyak pekerjaan. Dalam otak saya, Omnibus Law memang akan memberikan lowongan pekerjaan yang banyak, tetapi kita tidak lebih dari seekor sapi yang terus menerus diperas susunya hingga akhirnya kita mati disembelih! Kita tidak akan diberi upah ketika kita mengambil cuti. Ini sama artinya kita tidak “dianggap” oleh perusahaan. Opero Ergo Sum! (plesetan yang saya buat sendiri dari Cogito ergo sum! Opero (bahasa latin) dari kata Operare yang artinya bekerja) Kita hanya dilihat sebagai makhluk pekerja yang menguntungkan. Apabila kita sudah habis masa kerjanya, maka mereka sudah tidak melihat kita. Paradigma ini yang membuatku gelisah kok ya masih ada saja orang-orang yang melihat ini sebagai sesuatu yang baik. Aneh. Mungkin mereka adalah orang-orang yang tak pernah merasakan bagaimana susahnya kehidupan kelas bawah. Perjuangan keluarga-keluarga yang masih terbelit kesulitan ekonomi terlintas jelas di kepalaku. Balikpapan, ketika masa-masa awal reformasi, adalah tempat yang cukup traumatis bagiku. Aku masih mengingat jelas bagaimana kesenjangan ekonomi itu hadir tidak jauh. Ia sedekat pengalaman masa kecilku yang selalu kesulitan untuk mencari teman yang “setara”. Di kelas, yang diperbincangkan adalah mainan-mainan keluaran terbaru, atau film kartun yang hanya dapat ditonton lewat parabola, yang notabene milik kelas menengah ke atas. Di rumah, antena televisi harus diikat pada tiang yang tinggi untuk mendapat sinyal televisi yang bagus. Itupun masih bersemut. Jadi untuk punya teman, privilese kelas dan kemampuan ekonomi dari keluarga turut menentukan.

Lantas kenapa harus ricuh? Tidak dengan cara yang baik-baik? Mas, mbak, om dan tante. Ada yang namanya aksi kamisan. Sudah digelar selama satu dekade lebih lamanya. Yang dituntut tetap sama. Tentang penelusuran kasus-kasus pelanggaran HAM. Paling banyak memang kasus tragedi semanggi dan lain-lain. Kalian tahu apa yang terjadi? Kasusnya ditutup dan tidak pernah dibuka. Mereka tidak didengarkan! Saya disini melihat bahwa ricuh adalah sebuah konsekuensi dari sebuah proses yang tidak berjalan dengan semestinya. Berapa demonstrasi yang akhirnya didengarkan? Mari berhitung! Kita tidak pernah diberikan ruang negosiasi atas peraturan-peraturan yang diberlakukan di negeri ini! Ketika kita mencoba mengkritik atau memberikan kemungkinan lain, kita langsung dicap anti pemerintah, malah lebih parah dan kerapkali terjadi, dituduh PKI! Apa yang terjadi dengan RUU KPK, yang pada akhirnya tembus menjadi undang-undang, nampaknya belum bisa dilupakan publik secara luas. Demonstrasi besar-besaran yang ada di Indonesia justru tidak pernah dilihat sebagai ketidakpuasan publik. Ia hanya dilihat tidak lebih dari sebuah peristiwa politik yang selalu saja tendensius dan ditunggangi partai politik! Padahal, jika kita melihat lebih dalam, perlahan tapi pasti kita semua sangat tidak bersimpati dengan partai politik! Mereka hanya sekadar kendaraan bagi orang-orang yang punya privilese lebih untuk berkuasa di negeri ini. Tidak lebih. Konflik pasti terjadi ketika pihak-pihak yang ingin didengarkan malah tidak mendapat apa yang mereka inginkan. Lihat saja bagaimana anak kecil selalu menangis dan meronta-ronta, bahkan tidak jarang juga cenderung agresif. Kerumunan massa, aku kira hampir sama dengan anak kecil.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengajak anda-anda yang sekarang berada dalam kelas ekonomi menengah, yang masih bisa MAKAN, TIDUR, bahkan HANGOUT di tengah pandemi. Aku doakan kalian selalu mendapatkan apa yang kalian inginkan. Tetapi cobalah memahami bahwa kaum-kaum balungan kere ini punya logika yang berbeda dengan anda. Itu karena kondisinya jelas berbeda dengan anda. Saya hanya mencontohkan dengan apa yang saya miliki. Kasus di awal tulisan, Ayah saya ingin memukul kepala bos kantornya karena tidak diberi pesangon. Apakah ayah saya tidak “beradab”? Mari pikirkan kembali. Ini masalah hidup orang banyak dan tidak semua orang berpikir se-“beradab” anda. Banyak juga orang-orang yang justru dipaksa untuk memilih cara-cara tidak “beradab” untuk tetap hidup. Bersyukurlah anda jika masih bisa nongkrong dan hura-hura sementara orang-orang seperti saya dan kebanyakan orang lain mungkin masih berjuang untuk bisa makan bulan depan dan bulan-bulan berikutnya!

Surat Dari Kamar Mandi

Resesi, Covid-19, pengangguran, membebani keluarga. Ini adalah kata-kata yang selalu berulang di kepalaku beberapa hari ini terakhir. Entah harus dengan apa aku melawan kecemasan-kecemasan yang ada dan selalu muncul di dalam kepala. Yang jelas, ini tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata motivasi tai kucing yang sering bersliweran di timeline media sosial manapun. Mau menangis pun, nampaknya tidak menyelesaikan salah satu kecemasan yang ada, ya walaupun juga memberikan sedikit kelegaan. Jujur saja, setelah lulus pascasarjana kajian budaya (ini pun dengan ketar-ketir juga karena hampir saja harus melanjutkan satu semester lagi), impian saya satu per satu pecah berkeping-keping. Dimulai dari gagal menembus untuk menjadi guru di SMA Seminari Mertoyudan, dilanjutkan dengan pandemi covid-19 yang perlahan tapi pasti mengunci diriku sendiri. Pun tidak ada berita yang cukup melegakan dari pemerintah kita, karena nyatanya yang mereka pedulikan hanya persoalan ekonomi makro. Di level mikro, orang-orang mulai bergerak, panik dan ada kemungkinan juga putus asa. Buatku pribadi, sampai detik ini pun, saya masih disokong keluarga secara finansial, walaupun juga sudah berusaha untuk menghasilkan pundi-pundi untuk diri sendiri.

Namun setiap pagi, yang ada di dalam kepala cuma covid-19. Emang keadaan yang macam begini yang membuat asam lambung meningkat tajam setiap hari. Takut tertular dan lagi-lagi ketakutan terbesar justru merepotkan keluarga. Jujur saja, saya marah sama keadaan. Seperti ingin berteriak pada entah siapapun itu untuk menanyakan kapan saya bisa bahagia dalam periode yang cukup lama? Sepertinya benar jika para filsuf-filsuf kritis mengatakan bahwa hidup ini memang diciptakan untuk orang-orang pesimis. Mereka yang mampu skeptis terhadap keadaan, merekalah yang menang dan bertahan. Sedang mereka yang begitu optimis di awal, harus diterjang dengan badai keadaan dan pelbagai masalah hingga akhirnya mereka berada dalam titik terendah dan pada akhirnya bunuh diri. Hidup nampaknya sedemikian menyedihkan hingga kita harus merayakan kesedihan-kesedihan itu, setiap hari. Apalagi di masa pandemi seperti ini, berita kematian atau lelayu kita dengarkan seperti hal yang biasa.

Hal lain yang muncul adalah perasaan yang tak terdeskripsikan mengenai harus menghadapi resesi sekali lagi. 1998 adalah tahun di mana aku sendiri mengalami bagaimana kehidupan begitu menyedihkan. Harus memahami bahwa tidak semua keinginan mampu terwujud, tidak semua kekarepan dengan mudah terwujud. Simbol-simbol traumatik seperti indomie kari ayam dua bungkus menjadi pengingat di mana sebenarnya aku dan balung kere adalah dua hal yang tak terelakkan. Sepertinya adegan-adegan traumatik terputar kembali secara natural. Keringat dingin semakin deras keluar tatkala membaca berita bahwa resesi kali ini menjadi yang terburuk sejak 1998. Dalam hati aku berteriak, “asem ndhes!” Tapi aku (sok) yakin kali ini berbeda dengan sebelumnya sebab kali ini seluruh dunia kolaps. Tidak ada satu pun yang naik tidak seperti tahun 1998. Setidaknya beberapa kali kutemukan manusia-manusia baik hati yang mulai berjejaring untuk menyelamatkan ekonomi. Ya setidaknya bisa makan dulu.

Dan semua hal ini ada di pikiranku, meronta-ronta untuk ditulis dalam blog sebagai hasil dari nongkrong di jamban pada pukul sepuluh pagi dan sempat kuedit setelah berminggu-minggu lamanya naskah ini nganggur di laman draft. Keluar dari kamar mandi dengan rasa lega, saya ingin berkumandang, “Mari bergerak, gandeng kanca-kancamu biar bisa bertahan sejauh mungkin sebab berharap pada pemerintah agar mereka mampu bersimpati adalah mimpi siang bolong! “