Istimewa

Yudas, Si Murid Yesus

Menurutku dalam drama penyaliban Yesus, Yudas adalah murid yang justru memegang kunci karya keselamatan. Setelah mengatakan hal ini, mungkin aku akan disomasi oleh gereja-gereja katolik.Tapi aku membayangkan demikian. Intinya adalah bagaimana tak ada keselamatan yang lahir tanpa pengkhianatan. Namun dalam imajinasiku, apa yang dilakukan oleh Yudas bukan mengkhianati tetapi lebih kepada terjebak pada imajinasi sendiri, sama seperti kita yang sering terjebak dengan imajinasi kita sendiri.

“Yudas menginginkan Yerusalem untuk bebas dari penjajahan Romawi dengan dipimpin oleh Yesus. Yudas bersemangat ketika Yesus memasuki Yerusalem. Yudas sangat berharap bahwa Yesus mampu menjadi penggerak orang-orang Yahudi untuk memberontak terhadap Romawi. Apa yang diinginkan Yudas mungkin pernah sejalan dengan apa yang dikatakan Yesus dengan “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang” (Matius 10:34)” Nah mungkin Yudas sudah sepakat di dalam hatinya untuk membawa revolusi yang berdarah di tanah Yerusalem. Mungkin. Tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Yesus malah tunduk dan diam setelah diarak masuk ke dalam Yerusalem. Apa yang terjadi setelahnya, kita semua mengetahuinya. Yesus wafat di kayu salib, Petrus mengkhianati Yesus dengan menyangkal bahwa dirinya bukan murid Yesus, dan Yudas mati gantung diri bersama bayangan revolusionernya”

Yudas, setahu saya, adalah salah seorang yang memegang peranan penting di dalam kelompok murid-murid Yesus. Ia menjadi pengatur keuangan sekaligus menjadi orang yang paling terpelajar di dalam kelompok. Ia tahu strategi politik, ia tahu bagaimana kelompok ini seharusnya berjalan. Maka dari itu, Yesus kemungkinan juga mengetahui bahwa kecenderungan orang-orang seperti Yudas ini adalah konflik dan perseteruan (yang tentunya juga diikuti oleh intrik-intrik politik di dalamnya). Mungkin Yudas ini ya mirip-mirip SJW. Yang berpengetahuan, kritis dan paham celah-celah politik. Seperti layaknya SJW, Yudas ini juga punya energi yang berlebih untuk memikirkan hal-hal yang mungkin sedikit lebih abstrak. Hal ini tentu tidak mampu dilakukan oleh Petrus, yang notabene ‘cuma’ nelayan dan tak mungkin diberikan hal-hal abstrak. Yang dipikirkan oleh Petrus jelas. Makan dan hari esok.

Apa jadinya jika yang melakukan pengkhianatan justru Petrus? Apakah drama sengsara Yesus dapat digambarkan secara rapi? Pertanyaannya adalah Petrus tidak memiliki kemampuan memanipulasi seperti Yudas sebab pendidikan Yudas jauh lebih tinggi ketimbang Petrus. Ini jelas. Yudas mengenal kaum Sanhedrin, yang merupakan elitis Yahudi. Justru alur pengkhianatan jauh lebih kasar jika Petrus yang menyerahkan Yesus. Ada kemungkinan Yesus akan dibunuh oleh Petrus sendiri. Ini imajinasiku sendiri. Di dalam kepalaku, Petrus adalah orang bebal yang tempramental. Dengan latar belakangnya yang ‘hanya’ seorang nelayan, semakin meyakinkan kita semua bahwa masalah hidupnya jauh lebih berat, tekanan hidupnya juga jauh lebih berat daripada Yudas. Sifat Petrus yang tempramental ini adalah sebuah hasil dari beratnya tekanan hidup Petrus. Dari sini, mungkin Yesus juga berpikir bahwa tidak mungkin Petrus akan bersedia untuk ‘menyerahkan’ dirinya dan melakukan naskah ‘penyelamatan’. Bagaimana mau menyusun ‘alur’ pengkhianatan, jika Petrus saja adalah kaum-kaum sumbu pendek. Ingat, ia adalah orang yang memotong telinga Maltus, pengawal yang menangkap Yesus di Taman Getsemani. Itu menunjukkan bahwa Petrus tidak punya kapabillitas untuk menyusun ‘naskah’ penyelamatan dengan cara berkhianat. Cara yang dimiliki oleh Petrus adalah Hack and Slash. Tebas. Selesai perkara. Ya mirip-mirip dengan ormas-ormas yang ada di negeri Wakanda. Temperamental dan tetap PD dengan ketersesatannya.

Maka kembali lagi, saya yakin Yudas memang tokoh kunci dari misi penyelamatan ini. Bayangkan jika Yudas tidak berkhianat? Kira-kira apakah Yesus akan tetap mencari orang lain untuk melaksanakan ‘takdir’-Nya? Cerita akan menjadi berbeda mungkin. Kaum-kaum intelektual seperti Yudas adalah kaum-kaum yang sebenarnya memegang kunci dan alur cerita. Tanpa mereka, kisah pengkhianatan tidak mungkin ada, dan orang mungkin tidak akan ‘selamat’ sebab tidak ada ‘pengkhianatan’ di sana. Maka dari itu saya sangat yakin posisi Yudas disini sangat sulit. Dalam kacamataku, ia adalah orang yang ‘rela berkorban’ untuk mendatangkan ‘keselamatan’. Maka menjadi wajar jika pada akhirnya Yudas menggantung dirinya sendiri setelah apa yang ia bayangkan mengenai perlawanan dan revolusi yang heroik gagal dengan wafatnya Yesus di kayu salib. Yudas berhenti untuk memahami gambaran besarnya sebab ia punya ideologi sendiri yang beranak pinak di dalam kepalanya. Ia memilih membunuh dirinya sendiri sebab beban yang ia pikul terlampau berat. Singkat kata, dalam kacamataku, ia gagal berfantasi. Ideologinya berhenti di kayu salib dan tidak mampu melampauinya.

Jadi titik inilah yang menjadi permenunganku atas apa yang menimpa Yudas Iskariot, yang sering dituduh berkhianat. Aku masih mempercayai bahwa ia tak berkhianat. Ia hanya gagal berfantasi dan menembus imajinasi di balik kayu salib. Pertanyaan di akhir tulisan ini mungkin mampu menggugah kita semua. Jangan-jangan kita ini Yudas, yang hanya berhenti berimajinasi di kayu salib dan tak mampu melampaui apa yang ada di baliknya?

Seharusnya Memilih Teman Itu Tidak Apa-Apa

Menjadi dewasa juga memiliki konsekuensi yang tak terduga dan mungkin tidak aku kira sebelumnya. Salah satunya adalah lingkaran pertemanan yang semakin kecil seiring berjalannya waktu. Kita secara tidak sadar pada akhirnya akan dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin se-frekuensi dengan kita. Apalagi ketika kita semakin berumur, kita semakin enggan untuk menginvasi (lebay amat) orang-orang baru untuk dimasukkan ke dalam hidup kita (cuma asumsiku sih, soalnya aku mengalami hal ini). Jadi semakin kita dewasa, semakin menyempit circle pertemanan kita.

Situasi semacam ini mengingatkan saya pada perkataan orangtua ketika masih kecil. Mereka selalu mengingatkan untuk tidak memilih teman. Ya pada akhirnya ada situasi dimana tidak semua orang ‘layak’ kita masukkan dalam kategori teman. Suka atau tidak, kita pada akhirnya akan menyaring lingkaran pertemanan kita. Kita memilih untuk mundur pada lingkaran pertemanan tertentu entah apapun alasannya. Mungkin juga karena alasan yang sangat praktis seperti bahan pembicaraan yang sudah tidak dapat dinikmati. Ini masalahnya. Aku pernah mengalami rasa tidak enak karena keluar dari lingkaran pertemanan tertentu. Dicap sombong, dicap tidak bisa fleksibel dan kaku. Pada awalnya sih begitu hingga pada akhirnya aku menemukan satu titik dimana sebenarnya aku berhak menentukan siapapun untuk menjadi teman, sahabat, ataupun hanya sekadar kenalan saja.

Mengapa pada akhirnya aku membuat level pada lingkaran pertemanan? Ya tentu saja karena pada akhirnya aku menemukan keadaan dimana tidak semua orang memang mau berteman denganku dan tidak semua orang pula ‘layak’ untuk diberi waktu, perhatian dan tenaga. Mau tidak mau, suka tidak suka, ada beberapa orang yang mungkin pada akhirnya kita anggap ‘kenalan’ saja karena memang ada kejadian tertentu yang menyebabkan ‘turunnya derajat lingkaran pertemanan’. Aneh ya istilahku, tapi ya begitulah adanya. Boleh kok kita menurunkan ‘level’ pertemanan. Sah-sah saja menurutku sebab hubungan interpersonal itu bertumbuh dan dinamis. Jika itu tidak dipupuk dengan baik, ya wajar jika pada akhirnya hanya berakhir pada level ‘kenal’ saja.

Fakta lain yang lebih menyakitkan untuk diterima adalah menyempitnya lingkar pertemanan seiring bertambahnya usia. Iya. Semakin kita dewasa, lingkar pertemanan kita mengecil. Kita mungkin pada akhirnya hanya memiliki beberapa gelintir orang untuk dicurhati namun mereka-mereka inilah yang pada akhirnya mampu menjaga kewarasan mental kita setelah kehidupan memberikan kita cobaan yang cukup membajingkan. Awalnya mungkin aku juga sakit hati ketika secara natural ‘dikeluarkan’ di lingkaran pertemanan tertentu. Tapi pada akhirnya, aku harus menerima sebab kehidupan yang begitu dinamis memang membawa perubahan tertentu pada diri masing-masing orang, dan itu wajar. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita ‘nyemplung’ di dalam perubahan tersebut.

Perubahan-perubahan inilah yang kerap tidak disadari oleh beberapa lingkar pertemanan. Terus menerus membahas mengenai ‘kejayaan’ masa lalu tongkrongan pada akhirnya hanya berbuah kebosanan bagiku sebab hidup dialami oleh orang-orang secara berbeda. Ada orang yang berjuang untuk sesuap nasi, ada juga orang yang berjuang untuk sesendok berlian. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah ketika kita semua memaksakan bagaimana kondisi kita dialami oleh orang lain juga. Maka jika masih ada tongkrongan-tongkrongan yang tiap hari berkumpul dan hanya membahas mengenai ‘kejayaan’ masa lalu terus menerus, tinggalin aja. Karena aku yakin dirimu tidak akan tumbuh. Ya kamu cuma hanya berkutat pada kisah-kisah nostalgik yang dibuat untuk membuai dirimu. Healing pun tidak. Yang ada hanya lari dari kenyataan dan balik ke simple past tense. Membayangkan sesuatu yang sudah terjadi dan rasa-rasanya emosi yang membuncah hanya keluar sesaat. Setelahnya bosan dan kekosongan akan lebih mendominasi (menurut pengalamanku lho ini. Kalo kamu mengalami hal yang lain, ya silakan).

Maka pada akhirnya mungkin memilih teman memang tidak apa-apa. Toh, secara natural, kita semua akan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama. Teman-teman yang menghilang begitu saja adalah hal yang harusnya lumrah sebab tidak semua orang harus berada dalam satu tongkrongan terus menerus sepanjang hayatnya. Kita semua berhak untuk mendapatkan lingkaran pertemanan yang baru dan berhak juga untuk mempertahankan lingkaran pertemanan yang nyaman. Ya kan? Jadi ngapain kita bersusah payah untuk memakai topeng untuk masuk ke dalam satu lingkaran pertemanan yang tidak kita inginkan (bahkan kadang tidak kita butuhkan)?

Kasus Novia Widyasari dalam pusaran wacana:kemajuan atau kemunduran?

Membicarakan mengenai kasus-kasus kekerasan seksual akhir-akhir ini menjadi sangat menarik ketika kita meletakkannya pada kerangka analisa wacana Lacanian. Mengapa menjadi sangat menarik? Sebab membicarakan fenomena naiknya kasus-kasus kekerasan seksual ini seperti membaca wacana yang kita konsumsi. Analisa wacana lacanian memungkinkan kita untuk dapat melihat lebih jauh lagi mengenai bagaimana wacana-wacana yang ada, baik di sosial media ataupun media-media konvensional, justru tidak berujung pada lahirnya ‘ideologi’ baru mengenai bagaimana kekerasan seksual ditangani. Wacana-wacana yang bertebaran ini pada akhirnya hanya mempertebal dinding birokrasi yang ada selama ini. Wacana-wacana yang terlihat ‘histeris’ ini bisa jadi ujung-ujungnya hanya menjadi semacam ‘obrolan kosong’ yang tidak mengubah satu noktah pun. Ia akan terus berkutat pada ‘histeria’ daripada melahirkan ‘penanda tuan’ yang baru. Ini berarti tidak akan ada perubahan besar yang akan terjadi di dalamnya. Dibalik histeria itu, ada sebuah Mob mentality atau mental ‘merusuh’ yang memang sengaja dipelihara supaya masyarakat berada dalam wacana universitas dimana mereka akan selalu terbelah dan tidak pernah bertemu dengan ‘analis’nya.

            Untuk yang belum mengenal Lacan, secara sederhana saya berikan hipotesa saya di awal. Bisa jadi munculnya kasus-kasus kekerasan seksual ini hanya sebuah bentuk mob mentality yang menjadi sebuah konsekuensi dari tereksposnya kasus-kasus kekerasan seksual yang ada di masyarakat. Ini hanya sebuah histeria massa yang pada akhirnya pasti akan ditunggangi oleh kelompok tertentu yang diuntungkan baik secara ekonomi atau politik. Bukankah ketika demonstrasi besar-besaran menentang revisi KUHP beberapa tahun yang lalu juga mengusung agenda pengesahan RUU PKS? Saya sedikit pesimis dalam melihat fenomena ini, sebab kita semua tahu bahwa ‘penyakit’ negara ini adalah birokrasinya. Kita selalu berkutat pada pikiran untuk mengganti sistem tandanya (dalam wacana lacanian disimbolkan dengan S2) tanpa mau berusaha untuk mengganti penanda tuan yang ada di dalam sistemnya. Dengan demikian, apapun sistem yang diganti tidak akan membawa perubahan yang berarti selama ‘tuan’ yang sama masih berkuasa di dalamnya. Ini baru hipotesa saya.

Kasus Novia sebagai Notifikasi

            Perkara kekerasan seksual, saya yakin kita sepaham bahwa itu adalah perbuatan yang patut dihukum sebab telah merusak banyak hal dalam kehidupan manusia. Orang-orang yang melakukan tindak kekerasan seksual juga memang seharusnya dihukum. Namun pertanyaan yang ingin saya lontarkan kali ini jauh melampaui kejadian kekerasan seksualnya. Bagaimana gulir wacana kekerasan seksual mampu membuat perubahan yang lebih baik. Kita semua paham bahwa wacana adalah produk dari masyarakat sebagai konsekuensi yang dihasilkan dari hubungan sosial masyarakat. Kekerasan seksual memang harus dihindari namun pertanyaan yang lebih jauh lagi adalah sejauh mana masyarakat kita mampu menggeser wacana yang ada dengan wacana yang lebih baru. Persoalannya sederhana, wacana yang begitu gaduh di berbagai media akhir-akhir ini apakah mampu menggeser ideologi patriarki yang bercokol jauh di dalam masyarakat.

            Kasus-kasus kekerasan seksual yang terangkat dan terekspos publik akhir-akhir ini menjadi gejala yang patut untuk dilihat lebih dalam. Kita patut berterimakasih pada pihak-pihak yang mengangkat kasus-kasus kekerasan seksual diangkat ke publik. Ini bekerja seperti notifikasi di dalam ponsel pintar yang mampu menyedot perhatian kita untuk sejenak. Hal ini baik sebab menjadikan kekerasan seksual menjadi ‘masalah’ yang cukup berarti bagi masyarakat yang terkadang perlu ‘dicolek’. Kesadaran masyarakat akan kekerasan seksual meningkat pada akhirnya dan kasus-kasus lain pada akhirnya juga terekspos ke publik. Tetapi saya pikir tujuan akhirnya tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan kekerasan seksualnya. Tujuan akhirnya adalah memberikan ruang aman bagi siapapun dari kekerasan seksual.

            Kasus yang paling menarik perhatian publik adalah kasus kekerasan yang dialami oleh Novia Widyasari. Novia diberi obat tidur oleh kekasihnya yang lantas memperkosanya. Novia bahkan dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh kekasihnya, Randy. Kasus Novia Widyasari terangkat ke publik juga sebagai hasil dari viralnya di sosial media, twitter. Kasus ini juga melibatkan Bripda Randy sebagai tersangka yang melakukan kekerasan seksual terhadap Novia Widyasari. Novia pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah putus asa menghadapi hidupnya.  Kasus Novia ini menarik untuk dijadikan salah satu bagaimana masyarakat membicarakan mengenai kekerasan seksual. Ada beberapa wacana di dalam pusaran kasus Novia Widyasari.

            Pandangan bahwa perempuan menjadi korban karena cara berpakaian mereka yang ‘mengundang’ nafsu birahi adalah salah satu wacana yang cukup sering muncul dalam setiap kasus kekerasan seksual. Namun dalam kasus Novia, wacana ini justru dapat digeser karena adanya realita dan fakta bahwa Novia menjadi korban kekerasan seksual terlepas dari cara berpakaiannya. Bahkan, ada unsur paksaan yang dilakukan oleh Bripda Rendy sebagai tersangka utama dalam kasus ini. Pergeseran wacana inilah yang menarik untuk dilihat lebih lanjut sebab pada kasus-kasus sebelumnya, wacana ini selalu menjadi ‘lawan’ yang setara pada wacana tandingan lain. Namun dalam kasus Novia, wacana ‘kekerasan seksual yang disebabkan oleh cara berpakaian’ mampu digeserkan sebab adanya realitas yang sungguh berbeda. Pada akhirnya kasus ini mampu menjadi lampu ‘peringatan’ bagi masyarakat (baik warga serta pemerintahannya).

            Ketika kita mencoba untuk melihat struktur yang ada di dalam kasus Novia, kita justru mendapatkan beberapa dugaan. Yang pertama adalah bagaimana masyarakat sebenarnya juga menyimpan ‘dendam’ yang cukup dalam sebagai akibat permainan kata ‘oknum’ yang dilakukan oleh Lembaga Pemerintahan untuk menghindarkan dirinya dari kesalahan yang ia lakukan. Dugaan ini terlihat lewat pernyataan-pernyataan yang ada di dalam sosial media mengenai bagaimana Bripda Randy mendapatkan hate speech yang cukup banyak. ‘Dendam’ ini cukup brutal sehingga warganet juga turut menyerang Bripda Randy secara personal (ad hominem). Hasrat masyarakat yang tersalurkan melalui  kasus Novia Nampak seperti orgasme yang tertahan lama. Sebelumnya juga terdapat rentetan kasus yang dilakukan oleh anggota kepolisian namun berujung gagal untuk menembus lapisan wacana ‘oknum’. Nampaknya lapisan wacana ‘oknum’ menjadi obat yang selalu mujarab dalam menghadapi kegagalan sistem yang tidak pernah mendapat evaluasi yang berarti. Kebetulan dalam kasus Novia, nampaknya wacana ‘oknum’ sudah tidak mampu menahan laju deras hasrat masyarakat yang ingin mengatakan bahwa Lembaga kepolisian tidak mampu dipercaya. Hingga akhirnya, bersamaan dengan kasus Novia, turut juga viral tagar #percumalaporpolisi.

            Kasus Novia ini menjadi semacam notifikasi dalam ‘ponsel pintar’ masyarakat kita. Dengan kegaduhan yang terjadi di sosial media, ini sebenarnya adalah sebuah kesempatan untuk melakukan perubahan lebih lanjut. Namun pertanyaannya adalah seberapa jauh wacana-wacana yang digulirkan di dalam masyarakat ini mampu menghadirkan ruang-ruang aman di dalam masyarakat? Ruang-ruang aman ini justru akan hadir ketika pemerintah mampu menghadirkan sistem perlindungan yang cukup komprehensif dalam menjamin warga negaranya dari kekerasan seksual.

Ramai Lalu Hening

            Apa yang menjadi permasalahan utama yang ingin saya garis bawahi dalam tulisan kali ini adalah bagaimana masyarakat kita terlalu mudah untuk lupa dengan segala kegaduhan lama dan sangat cepat beralih menuju ke kegaduhan yang baru. Ketika bulan Desember tiba, kasus Novia Widyasari tiba-tiba hening. Semua seakan setuju bahwa dengan penangkapan Randy serta pemberhentian dengan tidak hormat dari anggota kepolisian seakan menjadi solusi akan kegaduhan wacana kekerasan seksual yang digulirkan di sosial media. Faktanya, kasus-kasus kekerasan seksual berlanjut. Pelaku-pelaku kekerasan seksual lain masih juga bermunculan, walau mungkin tidak segaduh kasus Novia Widyasari. Kasus yang terjadi di Bandung, Cibiru menjadi notifikasi baru. Bagaimana seorang guru, yang ternyata juga seorang pemilik Yayasan pondok pesantren, menghamili 21 orang santriwati.

            Kegaduhan dimulai lagi. Begitu seterusnya. Dari kasus ke kasus. Ramai sebentar lalu hening kemudian. Tidak ada yang berubah di negara ini. Kasus demi kasus, yang ternyata banyak pelakunya adalah pemegang kekuasaan, bermunculan dan tak pernah usai. Seakan tidak ada tindak lebih lanjut untuk mencegah kekerasan seksual, semua hilang sunyi ketika histeria massa bergeser menuju kegaduhan yang baru.

            Apa yang sebenarnya dilakukan oleh influencer, sosial media, serta media-media konvensional justru berperan penting untuk memberikan ‘obat’ agar wacana-wacana ini tidak hanya berputar-putar di tempat yang sama. Gaduh lalu hening tanpa terbentuknya ruang-ruang aman yang baru, tanpa ada jaminan perlindungan kekerasan seksual. Jika hal ini tidak segera disadari oleh pihak-pihak yang berkuasa dalam media, kita tidak akan pernah menuju ke dalam ruang aman yang baru. Kita hanya terus menerus gaduh di tempat yang sama tanpa perubahan sedikit pun.

            Lihat saja bagaimana RUU PKS (Rancangan Undang-Undan Pencegahan Kekerasan Seksual) tidak pernah mendapat kesempatan untuk dibahas dalam rapat-rapat anggota DPR. Suara-suara Novia atau puluhan santriwati itu hanya gaduh di luar pagar DPR dan tidak mampu masuk ke dalam ruang-ruang rapat anggota DPR. Kasus demi kasus terus terjadi tetapi RUU PKS belum pernah mendapatkan kesempatan untuk dibahas dalam rapat anggota DPR.

            Agak beruntung ketika Nadiem Makarim mengatakan bahwa ia menjamin ruang-ruang aman di dalam institusi Pendidikan. Ia mengeluarkan permendikbudristek nomor 30 tahun 2021 mengenai pencegahan kekerasan seksual. Setidaknya institusi pendidikan mampu memberikan jaminan lebih awal untuk memberikan ruang-ruang aman dengan diawali oleh permendikbudristek ini. Langkah awal yang cukup baik untuk memberikan ruang-ruang aman di tempat lain dari kekerasan seksual.

            Tetapi ada yang lebih penting untuk ditindaklanjuti di dalam dunia Pendidikan. Bagaimana wacana kekerasan seksual harus masuk dalam kurikulum untuk dibahas dan didiskusikan sebab mob mentality justru tidak memberikan perubahan yang berarti. Sekolah-sekolah harusnya memberikan alat-alat agar subjek-subjek dalam masyarakat mampu memiliki daya kritis dalam mengkonsumsi tiap wacana yang ada. Ketika setiap subjek mampu memberikan daya kritisnya terhadap wacana, maka akan ada titik celah untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Tanpa adanya daya kritis yang harusnya ditumbuhkan di dalam sekolah, masyarakat kita akan selalu ramai dan gaduh lalu hening tanpa ada perubahan yang berarti.

            Kasus Novia, saya yakin adalah awal yang baik untuk memulai sebab ia mampu mengguncang sosial media. Namun sekali lagi pertanyaannya adalah sejauh mana wacana ini mampu bergulir? Ataukah ia akan digeser dengan kegaduhan baru yang mungkin lebih menguntungkan bagi beberapa pihak?

Menyoal Klitih (lagi)

Saya akan membuka tulisan saya dengan kalimat Klitih itu abadi, yang fana itu Jogja. Mengapa? Jawabnya adalah menghapus klitih itu tidak mudah sebab di dalam satu peristiwa yang sering kita sebut klitih, terdapat kompleksitasnya yang cukup rumit dan bundet. Mungkin anda perlu sedikit membaca tulisan saya https://otakserongkanan.wordpress.com/2020/02/06/tentang-klitih-dari-orang-yang-tidak-paham-apa-apa/. Kebetulan juga saya pernah meneliti klitih. Sebuah kebetulan sebab penelitian saya berawal dari pertemuan saya dengan mantan pelaku klitih. Sebuah pertemuan yang pada akhirnya membawa sebuah pemahaman kembali bahwa klitih memang tidak semudah itu hilang dan sirna dari Jogja. Ia (mungkin) sudah menjadi “warisan” tahun ke tahun, sebagai produk bundet-nya interaksi sosial yang terjadi pada masyarakat Jogja.

Tujuan saya menulis mengenai klitih lagi adalah supaya kita tidak terlalu naif dalam memandang klitih. Para pelaku adalah anggota masyarakat, disukai atau tidak. Ia lahir, tumbuh dan berkembang dari masyarakat Yogyakarta lengkap dengan penderitaan serta kegembiraan di dalamnya. Apa yang dirayakan oleh Yogyakarta, dirayakan pula oleh mereka. Begitu pula apa yang digalaukan oleh Yogyakarta, mereka juga mengalami kegalauan yang sama. Kupikir tidak ada orang yang lahir di luar masyarakatnya. Maka credo inilah yang harusnya digunakan ketika melihat klitih yang hampir setiap akhir tahun naik daun.

Lantas mengapa klitih ini benar-benar susah untuk dihilangkan dari Yogyakarta? Jawabannya justru terletak ada Yogyakarta itu sendiri. Ketika menengok kembali sejarah Yogyakarta, mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan kembali membaca mengenai bagaimana peran bandit-bandit di struktur masyarakat Yogyakarta yang turut mewarnai narasi mengenai Yogyakarta. Sejarah Yogyakarta tidak melulu berisi narasi-narasi kerajaan yang gemah ripah loh jinawi. Narasi-narasi Yogyakarta justru juga terselip kisah-kisah preman yang paling disegani di Yogyakarta, Gun Jack, belum lagi bagaimana Yogyakarta juga cukup terkenal dengan geng-geng sekolah ketika era 2000-an. Mau tidak mau, suka tidak suka, Yogyakarta memang punya catatan sejarah yang cukup lekat dengan kekerasan dan premanisme (https://tirto.id/potensi-konflik-premanisme-di-yogya-meningkat-bSDe). Maka dari catatan-catatan sejarah inilah kita harusnya tidak terlalu naif untuk mengatakan bahwa tindak tegas kepolisian adalah satu-satunya cara untuk menghapuskan klitih. Dalam beberapa kasus, tindak tegas dari kepolisian justru malah memperparah keadaan.

Akar masalah dari klitih ini adalah ruwetnya interaksi sosial masyarakat Yogyakarta. Di atas permukaan, Yogyakarta begitu tenang dan damai, namun ia sebenarnya sedang menyimpan banyak konflik yang mungkin suatu saat bisa saja meledak kapanpun. Konflik-konflik seperti konflik agraria, konflik ekonomi lengkap dengan tuntutan UMR, hingga kepentingan politik. Ia hanya sedang menunggu waktunya. Masyarakat Yogyakarta memang sedang ‘dipaksa’ untuk menerima keadaan dalam berbagai kondisi. Mereka ‘dipaksa’ untuk bekerja dan bersyukur dengan upah yang mungkin belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari, ‘dipaksa’ lagi untuk melihat bahwa pembangunan ‘kejayaan masa lalu’ lebih penting daripada urusan perut rakyatnya. Maka tidak heran jika klitih akan selalu menjadi ruang untuk disalahkan. Ia ‘layak’ dijadikan kambing hitam atas tidak berkembangnya Yogyakarta. Layak juga dipersalahkan atas tidak berkembangnya pariwisata di Yogyakarta dan mencoreng nama baik Yogyakarta sebagai ‘kota pelajar’, (ironinya Yogyakarta tidak memiliki ruang terbuka umum yang dapat diakses gratis oleh anak-anak muda, semua habis untuk coffeeshop dan restaurant viral).

Kupikir pemerintah bisa memulai dengan menyediakan ruang terbuka yang dapat diakses secara gratis oleh anak-anak muda sehingga memungkinkan mereka untuk berkarya lebih jauh lagi. Aku juga membayangkan alun-alun utara yang kembali lagi dibuka untuk anak-anak muda bercengkrama dan nongkrong. Ketika sang raja mau rela untuk ‘mengotori’ halaman depan rumahnya, disitulah sebenarnya ia sedang membuka ruang mediasi bagi siapapun untuk masuk. Tetapi ketika semua ruang ditutup, kupikir hanya menunggu perkara waktu saja persoalan klitih ini akan semakin memburuk. Pilihan tetap ada di tangan penguasa, sebab klitih adalah konsekuensi yang diambil ketika memilih untuk menutup dan menguasai segala lini. Maka selama ia tetap ingin berkuasa, klitih akan abadi dan Yogyakarta (yang nyaman dan tentram) itu fana.

Sepakbola, Kita dan Konsumerisme

Bagiku sebenarnya sah-sah saja ketika taipan mulai melirik sepakbola sebagai sebuah cara untuk menanam modal yang besar. Lihat betapa satu planet ini benar-benar dikuasai oleh olahraga ini. Berapa banyak uang yang dihasilkan dari ajang sepakbola terbesar di muka bumi ini? BBC mencatat pada tahun 2011-2014, FIFA meraup untung sekitar US $ 5,72 Milliar (setara 81,3 Triliun Rupiah, dihitung dengan kurs pada tahun tersebut). Dari pagelaran Piala Dunia 2018, FIFA berhasil mengantongi 6,1 Miliar US Dollar atau setara dengan 87 Triliun Rupiah. Data ini sebenarnya sudah menunjukkan bahwa sepakbola adalah bisnis yang cukup menjanjikan bagi taipan-taipan yang ingin terus melipatgandakan kekayaannya. Mereka rela untuk menanam saham dan investasi dalam jumlah yang gila-gilaan bukan tanpa sebab. Mereka paham benar bahwa sepakbola mampu menyedot miliaran penonton di muka bumi. Apalagi ketika mereka mampu memiliki klub-klub besar seperti Manchester United, Real Madrid ataupun Barcelona yang memiliki fanbase yang cukup besar di seluruh muka bumi.

Lantas apa salah jika sepakbola mencoba merevolusi dirinya untuk menjadi mesin penghasil uang yang lebih efektif, efisien serta lebih masif? Jawabannya harus melihat kembali bagaimana perkembangan sepakbola itu sendiri yang ternyata kompleksitasnya mirip dengan agama. Iya. Sepakbola bagi banyak orang memang sudah mendarahdaging dan seolah menjadi ideologi tersendiri dalam hidup mereka. Bahkan, identitas mereka. Sepakbola memang sekompleks itu. Bahkan ada banyak orang yang benar-benar menganggap ini adalah bagian dari hidup mereka! Ada beberapa kasus bunuh diri oleh fans fanatik sepakbola hanya karena kegagalan satu tim menjuarai kejuaraan tertentu? Dari sinilah terlihat bahwa sebenarnya sepakbola bukan sekadar olahraga tapi sudah berada dalam tahap berikutnya. Sepakbola tidak hanya dikonsumsi pada level hiburan namun sudah berada di level selanjutnya, yaitu sepakbola sebagai ideologi bahkan identitas!

Maka ketika kita kembalikan lagi pertanyaan apakah salah sepakbola merevolusi dirinya untuk menjadi penghasil uang yang lebih efisien, efektif dan masif, kita seolah memiliki konteks bahwa konsumsi sepakbola memang sudah berada di level yang terlampau dalam. Rasa-rasanya muncul ketidakadilan disana bahkan ada rasa ketidakrelaan untuk ‘menjual’ sepakbola lebih jauh lagi. Tetapi banyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya kita pun perlahan sudah mulai kecanduan dan bahkan menjadi objek dalam posisi tawar menawar bisnis sepakbola ini. Bagaimana kita (khususnya saya) yang awalnya setia mencari utas live streaming demi menonton secara gratis klub ataupun negara yang kita gandrungi. Namun pada akhirnya para penyedia utas ini tiba-tiba berubah bentuk menjadi taipan yang memberikan tarif tertentu dalam layanan mereka menyediakan live streaming pertandingan sepakbola. Lantas apa pilihan kita? Menyerahkan diri pada penyedia jasa live streaming atau berusaha mencari lagi makelar utas live streaming lain yang jauh lebih gratis (tentu pilihan ini adalah pilihan yang saya pilih sebab saya masih eman-eman untuk mengeluarkan sejumlah uang ‘hanya’ untuk menonton sepakbola). Disadari atau tidak, kita ini benar-benar mengkonsumsi sepakbola, entah dari pertandingan ataupun simbol-simbol lain (kaos bola, merchandise lain) yang ditawarkan di dalamnya. Kita adalah objek eksploitasi dari bisnis terbesar di muka bumi. Dengan sadar atau tanpa sadar, kita menyerahkan diri sendiri di depan simbol-simbol yang ditawarkan di dalam mesin-mesin pertukaran simbol tersebut. Bahkan, sebelum mengatakan bahwa Newcastle United itu kapitalis (karena diakuisisi oleh taipan dan akhirnya mungkin berakhir seperti Manchester City), kita tidak menyadari bahwa klub-klub lain juga melakukan hal yang sama. Yang menjadi pembeda hanyalah skala serta eranya saja. Salah satu contohnya adalah ketika AC Milan diakuisisi oleh Silvio Berlusconi pada tahun 1986 dengan mahar 40 Juta Lira (setara dengan 97 Miliar Rupiah). Kala itu, AC Milan pada akhirnya toh menjadi klub raksasa Eropa dengan sederet gelar juara dalam satu dekade. Jadi kupikir mengatakan Newcastle United adalah ‘kapitalis’ seolah menjilat ludah sendiri ketika mengetahui bahwa klub-klub lain juga mengalami proses yang sama.

Maka pada akhirnya, sepakbola harus dilihat lagi secara keseluruhan. Pandanganku tetap pesimis karena pada akhirnya kita semua adalah penonton yang dieksploitasi habis-habisan oleh bisnis sepakbola. Mulai dari hiburan (dengan menonton pertandingan sepakbola) hingga kostum-kostum yang menjadi identitas kita (kaos bola yang asli hingga KW satu atau KW super, slayer atau bahkan gantungan kunci). Jadi, apakah sepakbola akan berubah bentuk menjadi mesin penghasil cuan yang lebih efektif, efisien dan masif? Kita tunggu perkembangannya sembari ‘menikmati’ pengalaman eksploitatifnya.